Kota Semarang, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menggelar kegiatan Sinkronisasi Hisab Kalender Hijriah Indonesia di Kota Semarang, Jumat–Minggu (29–31/8/2025), sebagai langkah mengintegrasikan metode hisab dan rukyat yang selama ini menjadi acuan umat Islam di Tanah Air.
Forum tersebut menghadirkan ahli falak dan astronom dari beragam metode, organisasi masyarakat Islam, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dan planetarium.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Abu Rokhmad mengungkapkan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan kepastian dan keseragaman penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Menurutnya, perkembangan ilmu falak yang semakin pesat harus dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi sekaligus menjaga relevansi dengan kebutuhan umat.
“Ini berarti kita punya masa depan yang cerah tentang ilmu falak. Karena itu, jangan disederhanakan atau hanya menggunakan satu metode. Dua metode itu, hisab dan rukyat, keduanya sah secara syariat dan valid secara ilmiah,” ujar Abu Rokhmad.
Menurut Abu, kegiatan ini menjadi forum penting bagi para pakar falak, ulama, dan praktisi astronomi untuk membahas sinkronisasi data dan metode. Selama ini, perbedaan dalam penerapan hisab dan rukyat sering menjadi pemicu perbedaan penentuan awal bulan Hijriah.
Abu menekankan, integrasi bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan memadukan keduanya agar hasilnya semakin akurat dan dapat diterima semua pihak. Ia menjelaskan, data dan perhitungan yang ada saat ini sudah sangat lengkap dan akurat.
“Kita mencoba mengintegrasikan, hari ini data dan hitung-hitungannya sudah ada, lengkap. Tinggal kemudian kita uji, benar nggak itu hitung-hitungannya,” ungkapnya.
Abu juga mengungkapkan pentingnya ketelitian dalam pengamatan hilal. Ia meminta agar setiap pergeseran waktu, bahkan sekecil satu detik, dicatat dan dijadikan bukti bahwa fenomena angkasa bersifat dinamis.
“Kalau ada pergeseran, satu detik pun, entah maju, mundur, nambah, atau kurang, itu harus dijadikan bukti konkret bahwa angkasa ini berkembang,” tegasnya.
Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap hasil hisab dan rukyat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kajian falak di dunia Islam.
Selain aspek teknis, sinkronisasi ini juga diharapkan menjawab kebutuhan umat yang mendambakan kepastian dan keseragaman. Abu menilai, diskusi publik yang berkembang di masyarakat tentang rukyatul hilal harus difasilitasi dengan pendekatan ilmiah yang tetap selaras dengan syariat.
Fn/Mr



