Jakarta, Bimas Islam --- Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin ingin amil dan nazhir menjadi profesi yang bergengsi. Pasalnya saat ini keduanya tidak diminati sebagai pekerjaan yang memiliki masa depan baik.
“Saya ingin amil dan nazhir menjadi profesi yang diminati generasi milenial, karena memiliki gengsi yang tidak kalah dengan pekerjaan lain,” katanya saat membuka rapat "Tindaklanjut Penerapan SKKNI Bidang Zakat dan Wakaf" di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin No. 6, Jakarta Pusat, Jumat (21/5).
Rapat bertajuk "Tindaklanjut Penerapan SKKNI Bidang Zakat dan Wakaf" diikuti oleh 30 Komite yang berasal dari Kemenag, Baznas, dan BWI. Hadir dalam rapat Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Tarmizi Tohor, Ketua Baznas Noor Ahmad, Sekretaris Baznas Zayadi Hasan, dan Kepala Subdirektorat Kelembagaan dan Informasi Zakat dan Wakaf Andi Yasri.
Dirjen menyatakan tujuan penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) Bidang Zakat dan Wakaf adalah agar amil dan nazhir memiliki kompetensi dalam menggali potensi zakat dan wakaf. Sehingga amil dan nazhir menjadi sebuah profesi yang diidamkan oleh semua kalangan.
“Jika semua amil dan nazhir memiliki kompetensi, kerjanya akan menjadi profesional,” ujarnya.
Dirjen mengatakan penerapan SKKNI yang berlaku 5 tahun ini merupakan sebuah keberhasilan luar biasa hasil kerja sama antara Kemenag, Baznas, BWI, dan Forum Wakaf Produktif.
“Keluarnya SKKNI zakat dan wakaf yang ditandantangani Kementerian Ketenagakerjaan merupakan sebuah kesuksesan luar biasa atas pengakuan sebuah profesi terkait amil dan nazhir,” pungkasnya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag: Sulsel Berpeluang Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah di Wilayah Timur Indonesia
Makassar, Bimas Islam — Sulawesi Selatan berpeluang menjadi pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di wilayah timur Indonesia. Potensi tersebut…



