Taipei, Bimas Islam– Sebanyak 87 pasangan WNI di Taiwan mengikuti prosesi nikah massal yang difasilitasi Kementerian Agama (Kemenag) dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Minggu (24/8/2025). Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ditjen Bimas Islam Kemenag, Cecep Khairul Anwar, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang digelar dalam dua sesi tersebut.
Menurutnya, di tengah angka perceraian nasional yang kian meningkat hingga di atas 30 persen, fenomena nikah massal di Taiwan justru menunjukkan tren positif. “Dari awalnya hanya 35–40 pasangan, hari ini jumlahnya mencapai 87 pasangan. Ini sebuah kabar menggembirakan,” ujar Cecep dalam sambutannya, di Taiwan, Minggu (24/8/2025).
Cecep mengungkapkan, pernikahan bukan sekadar formalitas, melainkan ibadah agung yang bernilai sepanjang hayat. Ia menyebut, dibandingkan ibadah lain yang bersifat periodik seperti puasa atau zakat, pernikahan adalah ibadah yang paling panjang. “Sejak ijab kabul sampai akhir hayat, setiap interaksi suami-istri bernilai ibadah. Memberi senyum, membuat kopi, mencari nafkah, semua adalah ibadah,” jelasnya.
Lebih jauh, Cecep mengingatkan bahwa pernikahan adalah mitsaqan ghalizhan atau perjanjian agung sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an. Karena itu, pernikahan harus dijalani dengan kesungguhan, tidak main-main, dan senantiasa dilandasi ibadah. “Rasulullah Saw. akan bangga kepada umatnya yang menjaga kesakralan pernikahan,” ungkapnya.
Menurut Cecep, terbentuknya keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah tidak datang begitu saja, melainkan harus diupayakan dengan ketakwaan. Ia mengatakan, akad nikah juga bermakna penyempurnaan agama. “Sebelum menikah, agama seseorang baru 50 persen. Setelah akad, ia menjadi sempurna 100 persen. Karena itu, pernikahan harus diniatkan lillahi ta’ala,” paparnya.
Sementara itu, Kepala KDEI Taipei, Arief Sulistyo, menekankan bahwa program nikah massal ini merupakan bentuk fasilitasi negara bagi WNI yang tidak dapat kembali ke Indonesia untuk menikah. Dikatakannya, banyak pekerja migran tidak mampu pulang karena keterbatasan cuti maupun biaya.
“Karena itu, KDEI bekerja sama dengan Kemenag menyelenggarakan pernikahan di luar negeri agar mereka tetap bisa menjalankan syariat secara sah,” ujarnya.
Arief mengingatkan bahwa sejak pertama kali digelar pada 2014, nikah massal di Taiwan menjadi tradisi baik yang terus dilanjutkan. Ia pun memberi penghargaan kepada Sekjen Kemendag, Isy Karim, yang kala itu menginisiasi kegiatan serupa. “Berkahnya mengurus nikah tahun 2014, sekarang beliau jadi Sekjen. Ini contoh bahwa kebaikan berbuah keberkahan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, setiap pendaftaran pasangan calon pengantin diverifikasi ketat sesuai Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2024 tentang Pencatatan Nikah. Dari total 355 pendaftar, hanya 87 pasangan yang dinyatakan memenuhi syarat. “Kami tidak asal menikahkan. Semua proses dilalui dengan wawancara keluarga, verifikasi dokumen, hingga bimbingan pranikah bersama Kemenag, Salimah, PCI-NU, PCI Muhammadiyah, dan Formed,” jelas Arief.
Arief juga mengumumkan bahwa mulai tahun ini, KDEI Taipei akan mengembangkan layanan mirip Kantor Urusan Agama (KUA) di luar negeri. “Setiap bulan, bertepatan dengan Sunday Service, kami akan membuka layanan nikah massal. Dengan begitu, WNI di Taiwan punya akses yang lebih mudah untuk menikah sah,” ungkapnya.
Lebih jauh, Arief berpesan agar pasangan pengantin merencanakan keluarga dengan baik, termasuk soal kehamilan, agar tidak mengganggu tujuan utama mereka bekerja di Taiwan. “Jangan sampai setelah menikah bingung karena hamil atau punya anak, sementara status kerja tidak memungkinkan. Silakan konsultasi dengan majikan untuk mencari solusi terbaik,” tandasnya.
Ia mengatakan, dengan kehadiran Kemenag dan KDEI, nikah massal di Taiwan 2025 bukan hanya mengukuhkan pernikahan secara syariat dan hukum negara, tetapi juga menghadirkan bimbingan keagamaan dan solusi praktis bagi pekerja migran Indonesia.
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Staf Khusus Menteri Agama, Farid Fachruddin; Sekjen Kemendag, Isy Karim; Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Cecep Khairul Anwar; Kepala KDEI Taipei, Arief Sulistyo; Kasubdit Bina Kepenghuluan, Afief Mundzir; serta Penghulu Ahli Madya, Anwar Saadi.
An/Mr



