Jakarta, Bimas Islam -- Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) melatih 100 Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dari berbagai daerah untuk menjadi penggerak (leading sector) dalam membangun jejaring lokal. Pelatihan ini digelar melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Jejaring Lokal angkatan III dan IV pada Rabu (27/8/2025). Fokusnya adalah memperkuat peran KUA dalam mencegah dan menangani persoalan keluarga, termasuk perkawinan anak dan perkawinan tidak tercatat.
Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menjelaskan, pelatihan ini sejalan dengan visi Ditjen Bimas Islam untuk mewujudkan keluarga sakinah maslahah di tingkat kecamatan. “KUA adalah ujung tombak Kemenag yang berada di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, mereka harus dibekali pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri agar mampu menginisiasi jejaring lintas sektor,” ujar Zudi.
Ia menambahkan, pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga membentuk paradigma baru dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan Kepala KUA. Dengan begitu, mereka tidak hanya memimpin tim internal, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan puskesmas, aparat desa, tokoh masyarakat, hingga instansi terkait lainnya di tingkat kecamatan.
Zudi mengungkapkan, masalah keluarga tidak bisa ditangani satu lembaga saja. Melalui jejaring lokal, setiap pihak dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya, namun tetap terintegrasi dalam satu tujuan bersama, yaitu mewujudkan keluarga sakinah maslahah.
“Selama ini penanganan masalah keluarga cenderung berjalan sendiri-sendiri. Dengan jejaring, kita dorong kolaborasi yang lebih solid sehingga dampaknya bisa lebih terasa,” jelasnya.
Program ini merupakan bagian dari target prioritas Bimas Islam hingga 2029. Harapannya, KUA tidak hanya berperan dalam pencatatan pernikahan, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan keluarga dan agen perubahan sosial di tingkat kecamatan.
“Transformasi ini tidak bisa hanya mengandalkan program, tetapi harus dimulai dari sumber daya manusianya. Kepala KUA harus siap menjadi penggerak dan teladan,” tegas Zudi.
Pendekatan Kolaboratif
Instruktur Nasional Bina Keluarga Sakinah, Sugeng Widodo atau yang akrab disapa Paman Dodo, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif. Menurutnya, setiap lembaga memiliki peran yang saling melengkapi sehingga sinergi antar-stakeholder menjadi kunci keberhasilan. “Puskesmas punya kapasitas kesehatan, KUA punya akses ke keluarga. Kalau kolaborasi ini berjalan, hasilnya akan lebih maksimal dan dampaknya lebih terasa,” ucapnya.
Pelatihan ini dirancang untuk melatih Kepala KUA menjadi fasilitator yang efektif. Mereka dibekali keterampilan komunikasi publik dan personal agar mampu memimpin forum lintas sektor, menjembatani kepentingan berbagai pihak, serta mengarahkan kolaborasi menuju solusi yang lebih terintegrasi.
Transformasi Kepemimpinan
Salah satu fokus utama pelatihan adalah penguatan kepemimpinan. Kepala KUA didorong membangun kredibilitas sehingga dapat memimpin kolaborasi, bahkan dengan mitra yang secara jabatan lebih senior. “Di lapangan, Kepala KUA harus berhadapan dengan mitra yang secara jabatan mungkin lebih senior. Tanpa rasa percaya diri dan kredibilitas, sulit untuk memimpin tim lintas sektor,” ujar Paman Dodo.
Peserta juga dilatih teknik membangun kepercayaan dan mengelola dinamika kelompok. Dengan keterampilan ini, jejaring yang dibentuk diharapkan tidak sebatas formalitas, tetapi benar-benar efektif dalam mengatasi problematika keluarga di tingkat akar rumput.
Fn/Mr



