Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) terus mengoptimalkan peran penghulu dalam pencegahan stunting. Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Cecep Khairul Anwar mengatakan, penghulu memiliki posisi strategis dalam memberi edukasi kepada calon pengantin, terutama melalui program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) dan organisasi profesi seperti Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI).
"Pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk penghulu. Melalui wadah organisasi seperti APRI, penghulu dapat berkontribusi langsung dalam memberi edukasi kepada calon pengantin," ujar Cecep kepada wartawan di Jakarta, Kamis (9/1/2025).
Cecep juga menekankan pentingnya penerapan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil). Aplikasi ini membantu penghulu memberi bimbingan berbasis data kesehatan calon pengantin, sehingga kesiapan fisik dan mental sebelum menikah dapat terukur dengan baik.
"Aplikasi Elsimil membantu calon pengantin memahami kesiapan mereka, baik secara fisik maupun mental, sebagai langkah awal untuk mencegah risiko stunting pada anak di masa depan," jelasnya.
Elsimil merupakan aplikasi yang diterbitkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (sekarang Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga) yang dioperasikan bersama Kementerian Agama. Aplikasi ini dibuat sebagai upaya menekan angka stunting di Indonesia melalui calon pengantin. KUA menjadi pengawal pelaksanaan aplikasi ini di tingkat kecamatan.
Melalui Elsimil, calon pengantin dapat memeriksakan kesehatannya di Puskesmas. Setelah itu, calon pengantin bisa mengunduh aplikasi Elsimil melalui Play Store atau App Store. Data hasil pemeriksaan kesehatan dimasukkan ke dalam aplikasi Elsimil, dan sertifikat dapat diunduh langsung melalui aplikasi tersebut.
Dihubungi terpisah, Kasubdit Bina Kepenghuluan, M. Afief Mundzir menyebut, penghulu harus mampu memberi pemahaman mendalam kepada masyarakat terkait risiko stunting. Menurutnya, perubahan cara pandang mengenai kesiapan menikah dan hamil menjadi salah satu tantangan yang harus diatasi.
"Budaya dan cara pandang masyarakat yang belum memahami risiko stunting adalah tantangan besar. Di sinilah peran penting penghulu untuk memberikan edukasi dan pendampingan langsung," kata Afief.
Dengan peran penghulu sebagai ujung tombak di masyarakat, ia berharap, angka stunting di Indonesia dapat terus ditekan, sehingga generasi yang sehat dan berkualitas dapat terwujud.
Msk/Mr



