Jakarta, Bimas Islam --- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Tarmizi Tohor mengatakan potensi wakaf di Indonesia sangatlah besar. Namun, dana wakaf yang diarahkan ke sektor kesehatan masih relatif terbatas.
“Wakaf di Indonesia sebagian besar diarahkan untuk konteks sosial keagamaan dan pendidikan. Tapi untuk pemanfaatan di sektor kesehatan yang berbasis wakaf itu masih relatif terbatas,” katanya saat ditemui di Kantor Kementerian Agama Jalan MH. Thamrin No. 6, Jakarta Pusat, Selasa (20/4).
Direktur menyatakan masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan intervensi wakaf dalam mengelola kesehatan masyarakat. Tarmizi menerangkan, begitu sangat terbatasnya wakaf uang yang diarahkan kepada pengelolaan kesehatan masyarakat.
“Masih terbatasnya pemanfaatan wakaf yang diarahkan ke sektor kesehatan, maka harus dipacu dengan mengedukasi masyarakat tentang wakaf uang. Sehingga dana wakaf uang tersebut bisa dimanfaatkan di sektor kesehatan untuk masyarakat,” urainya.
Tarmizi menyampaikan saat ini layanan berbasis wakaf pertama adalah RS Mata Achmad Wardi di Banten yang dikembangkan oleh BWI dan Dompet Dhuafa. Ia berharap akan banyak layanan kesehatan serupa di 27 Provinsi di Indonesia.
“Nanti di daerah lain tidak lagi dibangun RS mata, bisa jadi RS jantung atau RS ginjal. Semua pembangunan RS itu akan berbasis wakaf,” pungkasnya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



