Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), M. Fuad Nasar mengatakan, kehadiran Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) merupakan wadah pemersatu Islam dan Tionghoa.
“Di masa kolonial, Islam dan Tionghoa seolah jauh satu sama lain, namun kehadiran PITI dengan gerakan pembauran membuat Islam dan Tionghoa kian membaur. Karena Islam agama universal untuk kawan-kawan keturunan Tionghoa,” kata Fuad saat sambutan Muktamar ke-VI bertema Dengan Semangat Islam Rahmatan Lil-Alamin PITI Mengawal Pluralisme untuk NKRI mewakili Dirjen Bimas Islam di Hotel Golden Boutique, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (20/5) malam.
Fuad mengutip pemikiran seorang pemimpin dan tokoh terkemuka PITI Junus Jahja, Islam tidak membeda-bedakan manusia karena etnisitas dan warna kulit. Sehingga keturunan Tionghoa yang masuk Islam ingin langsung terjun di kalangan umat tidak perlu untuk menonjolkan etnisitasnya.
“Meski satu dan lain hal ajaran Islam membenarkan seseorang mengakui identitas asal usul dan etnisitasnya berdasarkan paham nasab. Namun, Islam juga mewajibkan seorang muslim harus mencintai agama dan tanah airnya,” ujarnya.
Selain itu, Fuad berharap PITI dapat menjadi pembina dan pembimbing saudara keturunan Tionghoa yang ingin mengenal Islam.
“Kita juga membutuhkan organisasi yang secara khusus membina para mualaf Tionghoa. Tentu cukup banyak di antara mereka yang memerlukan bimbingan setelah memilih menjadi mualaf,” pungkasnya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



