Aceh Tengah, Bimas Islam -- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag) Waryono Abdul Ghafur menyebut, Habib Bugak Al-Asyi dapat dijadikan contoh model wakaf produktif yang bisa ditiru, baik di Indonesia maupun dunia. Pernyataan itu disampaikan Waryono saat menutup Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Badan Wakaf Indonesia (BWI) Wilayah Aceh di Aceh Tengah, Kamis malam (7/11/2024).
Waryono menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan wakaf agar wakaf tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga menghasilkan manfaat berkelanjutan. “Aceh sudah memiliki contoh yang baik, yakni Habib Bugak Al-Asyi. Ini model wakaf produktif yang harus dicontoh. Setiap tahun, jemaah haji asal Aceh bahkan menerima dana wakaf dari lembaga tersebut sebesar Rp6,5 juta,” jelasnya.
Habib Bugak Al-Asyi, yang berasal dari Mekkah dan sempat menjadi orang kepercayaan Sultan Alauddin Mahmud Syah I di Aceh, menginisiasi penggalangan dana dari masyarakat Aceh pada tahun 1760. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli tanah wakaf di sekitar Masjidil Haram pada 1809, yang kemudian dimanfaatkan sebagai rumah singgah bagi warga Aceh. Saat ini, aset tersebut tetap produktif, memberikan bantuan dana tahunan bagi jemaah haji asal Aceh sebesar Rp6,5 juta per orang, dengan total bantuan sekitar Rp29 miliar setiap tahunnya.
Waryono juga menceritakan kisah sukses pengelolaan wakaf produktif ini di forum World Zakat and Waqf Forum (WZWF) yang dihadiri 43 negara anggota di Jakarta, Jumat-Sabtu (1-2/11/2024). "Kami berharap cerita sukses ini dapat memotivasi para nazir di negara-negara lain untuk mengelola aset wakaf dengan lebih produktif," ucapnya.
Lebih lanjut, Waryono menegaskan komitmen Kemenag untuk terus memperkuat pengawasan dan pembinaan terhadap pengelolaan wakaf di Indonesia. “Sebagai regulator, kami memiliki tugas pembinaan dan pengawasan, meskipun tantangan dalam pendataan aset wakaf yang terintegrasi masih ada,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari mengatakan, gerakan wakaf di Aceh akan semakin diperluas, terutama melalui program penanaman 100 ribu pohon di tanah wakaf yang belum produktif dalam lima tahun ke depan. "Ini komitmen kita bersama. Menanam pohon di tanah wakaf akan memberi nilai tambah sesuai ikrar wakif, dan tugas kita bersama untuk menjaganya," ujarnya.
Dalam penutupan Rakorwil BWI Aceh ini, BWI juga memberi penghargaan kepada pihak-pihak yang berkontribusi dalam pengelolaan wakaf. Di antaranya, Nazir Wakaf Terbaik diberikan kepada Yayasan Baitulrahman Peduli Umat Banda Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sebagai pemerintah daerah peduli wakaf terbaik.
Ba/Mr



