Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menargetkan, pada 2025, 10.000 Penyuluh Agama Islam dapat berperan aktif dalam memperkuat pesan-pesan keagamaan moderat di media sosial. Hal itu diungkapkan Kasubdit Penyuluh Agama Islam, Amirullah dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Juknis Tim Efektif Media Sosial Penyuluh Agama Islam yang berlangsung di Jakarta, Rabu (2/10/2024).
"Target ini bukan hanya angka, tetapi sebuah langkah strategis untuk memperkuat kehadiran penyuluh agama di ruang digital, guna menyampaikan nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama, serta merespons isu-isu aktual secara positif dan produktif," ujar Amirullah.
Merujuk Renstra Bappenas 2025-2029, Amirullah menjelaskan, penyuluh agama diharap aktif berdakwah melalui platform digital, tidak hanya melalui cara konvensional seperti di masjid dan majelis taklim.
"Saat ini, dari total sekitar 50.000 penyuluh agama di Indonesia, Kemenag menargetkan 10.000 di antaranya untuk secara konsisten memproduksi konten di media sosial. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk memastikan penyuluh agama tidak hanya eksis di lingkup masyarakat terbatas, tetapi juga mampu memperluas jangkauan dakwah melalui media sosial," ungkap Amirullah.
Lebih lanjut Amirullah menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dari target ini adalah mengorganisasi penyuluh dalam skala besar. Untuk itu, pihaknya berencana melibatkan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) dalam proses perekrutan dan pengelolaan 10.000 penyuluh agama ini.
"Mengelola 10.000 akun media sosial dengan konten yang terstruktur dan sesuai pedoman bukanlah tugas mudah. Oleh karena itu, kami akan menyusun roadmap yang jelas, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga kota, serta mengoptimalkan peran IPARI dan Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam," Jelas Amir.
Roadmap dan Silabus Konten
Sebagai langkah awal, Kemenag akan menyusun silabus konten yang menjadi panduan bagi penyuluh agama dalam memproduksi materi digital. Amirullah mengatakan, akan ada tema khusus yang diangkat oleh penyuluh agama secara rutin dan serempak di berbagai platform, mulai dari Twitter, YouTube, Instagram, hingga Facebook.
"Salah satu contoh tema yang akan diangkat adalah 'Kampung Moderasi Beragama', di mana para penyuluh akan membuat konten singkat dalam bentuk desain grafis atau video pendek yang mempromosikan nilai-nilai moderasi," katanya.
Ia mengatakan, setiap penyuluh akan dibekali dengan pelatihan konten dan manajemen media sosial. "Kita ingin dalam satu waktu, 10.000 konten positif yang membawa nilai keagamaan dan kebangsaan membanjiri dunia maya. Ini tentu memerlukan perencanaan matang, termasuk soal manajemen tagar dan pemilihan platform media sosial," tambah Amirullah.
Amir melanjutkan, program ini akan dievaluasi secara berkala setiap tiga bulan untuk memastikan ketercapaian target dan efektivitas penyebaran konten. Ia menjelaskan, FGD Juknis Tim Efektif Media Sosial akan menetapkan mekanisme pengukuran performa penyuluh agama di media sosial.
"Kita akan evaluasi kinerja setiap tiga bulan, dari jumlah akun, konten yang diproduksi, hingga dampaknya terhadap masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, evaluasi juga akan dilakukan pada akhir tahun 2024, sebelum program ini secara resmi diluncurkan pada Januari 2025. Fokus evaluasi mencakup komitmen kebangsaan, moderasi beragama, serta kualitas dan kuantitas konten yang dihasilkan oleh para penyuluh.
Menurut Amirullah, media sosial merupakan ruang strategis untuk mengatasi tantangan-tantangan sosial dan keagamaan yang muncul di era digital. "Kami tidak ingin konten yang disebarkan justru melanggar hukum atau meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, pedoman yang jelas harus disusun agar penyuluh agama paham batasan-batasan yang ada," tegas Amirullah.
Selain itu, penyuluh agama juga diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mulai dari penggunaan alat desain grafis seperti Canva hingga pengelolaan platform video seperti YouTube dan Instagram. Kemenag juga berencana menyusun materi pelatihan yang komprehensif, termasuk soal teknik produksi konten dan strategi distribusi digital.
Peluncuran program ini diharapkan akan mengubah lanskap kepenyuluhan agama di Indonesia menjadi lebih global dan inklusif. Dengan keterlibatan 10.000 penyuluh agama di media sosial, Amirullah berharap, masyarakat mendapat akses lebih luas terhadap konten-konten yang moderat, inspiratif, dan mendidik.
Fn/Mr



