Samarinda, Bimas Islam-- Kementerian Agama (Kemenag) melalui program Inkubasi Wakaf Produktif terus berupaya menekan angka kemiskinan ekstrem. Tahun ini, Program tersebut ditargetkan berjalan di 40 titik di seluruh Indonesia.
Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf, Muhibuddin menjelaskan, program Inkubasi Wakaf Produktif merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
"Inkubasi Wakaf Produktif ini merupakan program kolaborasi. Kita ajak seluruh nazir wakaf uang, terutama Badan Wakaf Indonesia (BWI), praktisi, cendekiawan di kampus, dan sektor swasta untuk terlibat," ungkapnya dalam dalam gelaran Talkshow ZaWa (Zakat Wakaf) di Expo MTQN 2024 di Samarinda, Rabu (11/9/2024).
Muhib mengungkapkan, program ini hadir di tingkat kabupaten hingga nasional, dengan seleksi ketat untuk memastikan kesiapan dan potensi lokasi yang terpilih. "Kita punya 500 lebih kabupaten dan kota, target kita adalah jumlah titik yang sebanyak-banyaknya," tambahnya.
Inkubasi Wakaf Produktif diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di sektor pertanian, perkebunan, pendidikan, dan jasa. Muhib pun menuturkan kisah keberhasilan program ini di Lingga, Kepulauan Riau. "Lahan yang tadinya becek dan tak produktif, kini menjadi gerai food court yang menarik minat warga lokal. Hanya dengan menjual makanan seharga Rp10 ribu, antusiasme warga sangat tinggi. Kini lahan tersebut terus berkembang," tutur Muhib.
Muhib melanjutkan, di bawah konsep Kota Wakaf, program Inkubasi Wakaf Produktif tidak hanya bertujuan mengembangkan wakaf secara fisik, tetapi juga membangun kemitraan publik-swasta yang solid. Kemenag melibatkan berbagai sektor, termasuk perbankan syariah dan pelaku usaha retail.
"Pertemuan antara sektor pemerintah dan swasta harus romantis dalam program Kota Wakaf ini," ungkap Muhib.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap pengelolaan wakaf, Kemenag juga memberi pendampingan intensif selama tiga tahun kepada para penerima manfaat. Pendampingan ini dilakukan oleh para ahli di berbagai bidang, mulai dari pertanian, pengemasan produk, hingga pemasaran digital.
"Pendampingan ini penting sekali, dan kita bekerja sama dengan kampus serta pihak swasta untuk mendukung keberlanjutan program," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan wakaf produktif untuk mengatasi tantangan kemiskinan di Indonesia. Saat ini, sekitar 25,8 juta penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan, dan program wakaf produktif diharapkan mampu memberi dampak signifikan dalam mengurangi angka tersebut.
"Kami fokus pada bagaimana kita bisa mengeliminasi jumlah penduduk miskin, khususnya kemiskinan ekstrem," kata Muhib.
Sebagai bagian dari pengawasan dan evaluasi, Kemenag melakukan kaji dampak setiap tahun dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pusat Penelitian Layanan Keagamaan. Hasil dari program ini akan dipaparkan kepada publik dalam laporan tahunan.
"Kami ingin cerita-cerita inspiratif dari suksesnya pengembangan Inkubasi Wakaf Produktif ini bisa menjadi motivasi bagi daerah lain," jelas Muhib.
Selain pengembangan program Inkubasi Wakaf Produktif, Kemenag juga memperkenalkan pengembangan ekonomi umat berbasis KUA, yang memungkinkan masyarakat untuk terlibat langsung dalam berbagai program peningkatan kesejahteraan ekonomi.
"Masyarakat bisa mengajukan diri melalui KUA atau Penyelenggara Zakat dan Wakaf di tingkat kabupaten dan kota. Semuanya transparan dan seleksi dilakukan secara elektronik," kata Muhib.
Fn/Mr



