Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) melatih para penghulu untuk menerapkan pendekatan andragogi dan budaya dalam program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Langkah ini dinilai efektif untuk menekan angka pernikahan usia dini di Indonesia.
Pendekatan andragogi—yang biasa digunakan dalam pendidikan orang dewasa—dipilih karena dianggap lebih sesuai bagi remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan pengambilan keputusan penting, termasuk terkait pernikahan.
“Anak muda tidak bisa hanya disuruh mendengar. Mereka ingin didengar, diajak berdialog, dan diberi ruang untuk berpikir kritis. Itu yang ditawarkan metode andragogi,” ujar Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Cecep Khairul Anwar, saat membuka Bimtek Fasilitator BRUS Angkatan V dan VI di Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Selain itu, Kemenag juga menerapkan pendekatan budaya dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuka adat untuk mengubah persepsi dan norma yang selama ini membenarkan praktik pernikahan usia dini.
“Peran tokoh agama sangat penting dalam memberikan penyuluhan terkait isu-isu seperti perkawinan anak,” tambah Cecep.
Materi BRUS disampaikan secara partisipatif melalui diskusi, studi kasus, dan simulasi. Topik yang diangkat mencakup kesehatan reproduksi, tekanan sosial, relasi gender, serta dampak hukum dan psikologis dari pernikahan anak.
“Kami menggeser pendekatan lama yang bersifat satu arah dan indoktrinatif ke pendekatan reflektif. BRUS bukan ceramah, melainkan proses pembelajaran dua arah,” tegasnya.
Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menambahkan, fasilitator BRUS tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter remaja Qur’ani yang siap menghadapi tantangan hidup.
“Kami ingin mencetak fasilitator yang tidak hanya cakap, tapi juga mampu membimbing remaja menjadi generasi berakhlak, tangguh, dan berwawasan keislaman,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, lanjutnya, Kemenag terus mendorong lahirnya generasi muda yang cerdas, bermoral, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045, sekaligus memanfaatkan momentum bonus demografi secara optimal.
Msk/Mr



