Jakarta, Bimas Islam – Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam), Kemenag menggelar Bimtek Pengelolaan Perpustakaan Masjid pada Jumat-Minggu (4-6/10/24) di Jakarta. Kegiatan yang menghadirkan narasumber dari Perpustakaan Nasional, Akademisi, dan konsultan tim TI (Information and Technology) itu diikuti 89 peserta dari perwakilan Kantor Wilayah Kemenag dan pengelola perpustakaan masjid seluruh Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) Kemenag, Ahmad Zayadi menegaskan pentingnya penerapan strategi pentahelix dalam transformasi perpustakaan masjid di seluruh Indonesia. Strategi pentahelix adalah strategi yang melibatkan kolaborasi lima unsur, yaitu pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan media.
"Pendekatan pentahelix ini memungkinkan kita untuk memperkuat kolaborasi. Pemerintah akan berperan dalam kebijakan dan regulasi, akademisi menyumbangkan ide serta konsep pembelajaran, pelaku bisnis berpartisipasi dalam pendanaan dan teknologi, masyarakat terlibat aktif sebagai pengguna, dan media berfungsi menyebarluaskan informasi serta mendorong kesadaran literasi," ungkapnya.
Zayadi mengungkapkan, perpustakaan masjid yang modern harus dapat memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan akses literasi, seperti aplikasi Elektronik Literasi Pustaka Keagamaan Islam (ELIPSKI) yang bisa diakses melalui perangkat elektronik.
ooppl“Inovasi ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda agar lebih sering mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan masjid. Sehingga, ekosistem masjid menjadi lebih dekat dengan masyarakat,” paparnya.
Zayadi menyebut, strategi pentahelix juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem perpustakaan masjid yang berkelanjutan dan inklusif, sehingga dapat menjadi salah satu motor penggerak peningkatan literasi dan pendidikan di Indonesia.
“Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dapat berperan aktif dalam mendorong transformasi ini, sehingga perpustakaan masjid dapat semakin relevan dengan kebutuhan zaman dan menjadi pusat peradaban Islam yang lebih modern serta progresif,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Zayadi menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan masjid. Inovasi ini tidak hanya mencakup manajemen, tapi juga program, pelayanan, hingga penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Perpustakaan masjid itu punya ciri khas, tidak hanya menyediakan buku keagamaan tapi juga harus mengikuti kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.
Selain itu, tambah Zayadi, masjid juga bisa menjadi bait al-tamwil, yaitu menghasilkan dana dari kegiatan usaha, sehingga masjid dapat berkembang secara mandiri.
"Ini yang dimaksud peran dan eksistensi masjid yang bisa dikembangkan mengikuti tren dan perkembangan zaman,” imbuhnya.
Menurutnya, perpustakaan masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan dan literasi yang bermanfaat bagi masyarakat. “Fungsi masjid hari ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat peradaban yang berperan strategis sebagai pusat dakwah dan literasi, kaderisasi, pemberdayaan ekonomi umat, pelestarian tradisi budaya, hingga resolusi konflik, dan harmoni sosial,” tandasnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin, Kasubdit Kemasjidan Kemenag Akmal Salim Ruhana, dan Kasubdit Kepustakaan Islam Kemenag Nur Rahmawati.
An/Mr



