Kota Kendari, Bimas Islam– Deputi Bidang Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), diwakili Asisten Deputi Bina Keagamaan Asep Sunandar, menekankan pentingnya menjadikan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) sebagai momentum transformasi pola asuh digital menuju pengenalan Al-Qur’an dan Hadis.
“Tantangan orang tua milenial ini sangat berat. Anak menangis dikasih handphone, anak rewel diputarkan video YouTube. Lama-kelamaan pengasuhan anak diserahkan kepada media digital, dan kita tidak bisa mengontrol,” ujar Asep pada acara peluncuran STQH Nasional 2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (9/9/2025).
Perkembangan gawai dan internet sering dijadikan solusi cepat dalam mendidik anak di rumah. Namun, kondisi ini secara perlahan membuat peran orang tua tergantikan oleh media digital.
Kurangi Screen Time, Perbanyak Green Time
Asep mengingatkan agar orang tua mulai mengurangi waktu anak di depan layar (screen time) dan menggantinya dengan aktivitas positif, termasuk mengenalkan Al-Qur’an dan Hadis sejak dini.
“Kalau generasi kita terlalu terbuai oleh digital atau kemajuan teknologi, bisa jadi mereka tidak lagi mengenal Al-Qur’an, Hadis, apalagi mengamalkannya,” tuturnya.
Selain pola asuh, Kemenko PMK juga mengungkapkan pentingnya lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak. Asep menekankan perlunya membangun kota dan desa yang livable (nyaman dihuni) dan lovable (dicintai warganya).
“Desa atau kota yang nyaman itu desa atau kota yang rukun. Kita harus menguatkan kerukunan di antara umat beragama, sesama agama, dan seluruh warga bangsa Indonesia ini,” katanya.
STQH sebagai Instrumen Pendidikan Karakter
Asep mengatakan, STQH Nasional 2025 tidak hanya menjadi ajang lomba tilawah dan hafalan Al-Qur’an serta Hadis, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat pendidikan keluarga. Dengan kolaborasi Kemenko PMK dan Kementerian Agama, STQH diharapkan menjadi alternatif positif bagi orang tua dalam mengalihkan perhatian anak dari gawai menuju nilai-nilai spiritual.
Menuruntnya, momentum STQH di Kendari menunjukkan bahwa ajang keagamaan tidak sekadar festival syiar, tetapi juga pengingat pentingnya membimbing generasi emas Indonesia agar berpijak pada nilai luhur agama. Transformasi pola asuh digital, kata Asep, merupakan tantangan bersama yang membutuhkan kesadaran kolektif orang tua, masyarakat, dan pemerintah.
Fn/Mr



