Jakarta, Bimas Islam --- Banyak sekali kisah-kisah inspiratif ketika musim ibadah haji tiba, salah satunya kisah seorang arif bernama Ali bin Muwaffaq. Menurut Analis Kebijakan Ahli Muda pada Seksi Penyuluhan dan Pengembangan Syariah, Husni Ismail, kisah ini akan menjadi obat bagi umat Muslim yang belum berkesempatan ke tanah suci.
“Ali bin Muwaffaq adalah seorang tukang sepatu di Kota Damaskus. Sejak lama ia ingin menunaikan ibadah haji. Meski tempat tinggalnya tidak jauh dari Kota Makkah, tetapi dia belum berkesempatan menunaikan ibadah langsung ke tanah suci,” cerita pria yang akrab disapa Tuan Guru Husni pada acara Obrolan Seputar Soal Islam (OBSESI) Episode #154, Jumat (15/7/22).
Menurut Tuan Guru Husni, meski Ali bin Muwaffaq tidak datang ke Makkah, namun niat ibadah hajinya diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt. Hal itu dikisahkan dari seorang ulama bernama Abdullah Ibnul Mubarrak.
“Suatu ketika Imam Abdullah Ibnul Mubarrak mengunjungi Makkah untuk berhaji. Di sela rangkaian ibadah haji, ia tidur terlelap di Masjidil Haram. Di dalam tidurnya ia melihat dua malaikat turun dari langit,” lanjutnya.
Tuan Guru Husni menjelaskan, dalam mimpi Imam Abdullah melihat dua malaikat turun dari langit. Keduanya mengenakan pakaian berwarna hijau. Ia mendengar betul percakapan keduanya.
“Berapa orang yang melakukan ibadah haji tahun ini?” tanya satu malaikat kepada yang lainnya.
“Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat yang ditanya.
“Berapa banyak yang diterima ibadah hajinya?”
“Tak satu pun.”
Mendengar percakapan itu, Imam Abdullah bertanya kepada malaikat. Salah satu malaikat menoleh kepadanya dan menjawab, “Sebenarnya tidak semua. Ada satu orang yang bernama Ali bin Muwaffaq."
“Dari kisah itu tentu kita heran dan bertanya-tanya amalan apa yang dilakukan Ali bin Muwaffaq sehingga mendapat pahala ibadah haji bahkan berkatnya pula 600 jemaah haji tadi diterima ibadahnya,” papar Tuan Guru Husni.
Dijelaskannya, setelah kejadian tersebut, Imam Abdullah datang menemui Ali bin Muwaffaq dan menceritakan ihwal mimpinya itu.
“Ali bin Muwaffaq kaget karena didatangi seorang ulama, bahkan ia tiba-tiba pingsan setelah mendengar cerita Imam Abdullah bin Mubarrak itu,” imbuhnya.
Ternyata Ali bin Muwaffaq sudah tiga puluh tahun menabung untuk ke tanah suci. Namun menurut Tuan Guru Husni, uang yang dikumpulkannya itu ia berikan kepada tetangganya yang membutuhkan.
“Ternyata sudah tiga hari anak tetangganya itu tidak makan. Kemudian masakan itu diambil dari sekerat daging keledai yang mati/bangkai. Mendengar cerita itu, Ali bin Muwaffaq pulang ke rumahnya dan mengambil uang tabungannya untuk diberikan ke tetangganya tadi,” imbuhnya.
Tuan Guru Husni menambahkan, kisah tersebut memberikan pesan kepada umat Muslim untuk tidak berkecil hati jika tidak mampu berhaji ke tanah suci.
“Kisah ini menunjukkan bahwa ibadah haji yang diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial. Dalam Islam pun kita diingatkan bahwa Ibadah sosial itu lebih utama daripada ibadah individual,” pungkasnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



