Tangerang Selatan, Bimas Islam --- Dakwah di wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terpencil) membutuhkan strategi khusus. Dakwah di wilayah ini tidak bisa berhasil hanya dengan strategi ceramah satu arah.
"Keterampilan para dai pedalaman perlu terus dikembangkan. Selain mengajarkan agama, para dai juga bisa dibekali keterampilan-keterampilan untuk diterapkan kepada masyarakat di wilayah dakwah," ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Muhammad Cholil Nafis secara virtual dalam Harmonisasi Dakwah Islam di Wilayah 3T di Hotel Qubika Boutique, Tangerang Selatan, Jumat (19/11/21) siang.
Para dai di wilayah 3T, lanjut Kiai Cholil, hendaknya dibekali dengan keterampilan pertanian, perikanan, industri, atau eksplorasi alam dengan cara pemberdayaan.
"Masyarakat perlu dakwah yang nyata. Dakwah yang tidak hanya bicara tetapi disempurnakan dengan berbagai amal. Perbuatan lebih fasih dari ucapan," katanya menegaskan.
Dalam kaitannya dengan pengarusutamaan Moderasi Beragama sebagai program prioritas Kementerian Agama, Kiai Cholil juga menyampaikan adanya hubungan antara faktor ekonomi dengan kesalahan dalam memahami.
"Moderasi Beragama tidak cukup dengan kata-kata. Kesalahpahaman bisa juga dipicu oleh kemiskinan sehingga seseorang mudah terinfiltrasi paham terorisme," tegasnya.
Dalam kegiatan yang dihelat oleh Subdit Hari Besar Islam (HBI) dan Dakwah Direktorat Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag ini, Kiai Cholil juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, ulama, dan pengusaha guna menyukseskan dakwah di wilayah 3T.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



