Bekasi, Bimas Islam --- Ketua Pokjaluh Kabupaten Bekasi, Satim Widodo mengungkapkan, aspek sosial ekonomi menjadi faktor utama munculnya pemahaman keagamaan yang menyimpang dan aliran sempalan di tengah masyarakat.
Satim menyampaikan, sejak Kabupaten Bekasi berubah menjadi kota industri, banyak para pendatang yang mengadu nasib untuk memperbaiki ekonominya. Namun, persaingan ketat membuat beberapa di antara mereka tersisih dan menciptakan konflik sosial.
"Kalau saya amati, munculnya aliran sempalan itu dari warga pendatang karena rasa sakit hati dan membuat sensasi baru. Seperti yang terakhir tertangkap di Tambun, setelah diselidiki, mereka semua bukan asli warga Bekasi," terang Satim saat dijumpai di KUA Kecamatan Cikarang Utara, Rabu (1/12/2021).
Satim mengatakan, untuk mencegah aliran sempalan tersebut semakin menyebar di tengah masyarakat, Pokjaluh Kabupaten Bekasi melakukan sosialisasi moderasi beragama mulai dari lembaga sekolah.
"Selain melakukan penyuluhan terkait bahayanya aliran sempalan dan radikalisme, kita juga mengaitkan tentang fenomena kenakalan remaja seperti narkotika, dan pergaulan bebas dari sudut pandang agama," lanjutnya.
Satim menambahkan, Pokjaluh Kabupaten Bekasi juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk melakukan pemetaan potensi konflik sosial yang memunculkan pemahaman keagamaan menyimpang.
(Boy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



