Jakarta, Bimas Islam— Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPP BKPRMI), Nanang Mubarok, membagikan strategi untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan yang makmur, produktif, dan inovatif, saat membuka Silaturahmi Nasional Aktivis Remaja Masjid Indonesia (ARMI) 2025 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
DPP BKPRMI merupakan organisasi kepemudaan yang menaungi pemuda dan remaja masjid di seluruh Indonesia. Lembaga ini fokus pada pengembangan kapasitas pemuda, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan dakwah dan aktivitas sosial berbasis masjid.
Nanang menekankan pentingnya aktivasi pemuda sebagai kunci keberhasilan program masjid produktif. Menurutnya, minimal 40 persen pemuda harus aktif berperan dalam setiap kegiatan masjid, baik sebagai pengelola, aktivis, maupun bagian dari DKM.
“Pengalaman kami di berbagai wilayah, termasuk Papua, menunjukkan bahwa masjid yang tidak mengaktivasi pemuda secara memadai cenderung stagnan. Sebaliknya, masjid yang melibatkan generasi muda secara signifikan lebih dinamis dan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat,” ujar Nanang.
Ketua BKPRMI itu juga mengulas fenomena generasi muda yang kurang bangga menampilkan identitas Islam. Berdasarkan riset DPP-BKPR 2024 melalui survei ASIS-PEP-4, hanya 15 persen pemuda dan remaja yang menyukai kebencian, artinya 85 persen sisanya memiliki potensi besar menjadi generasi aktif dan positif.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Nanang memperkenalkan konsep “6 I”, indikator fasilitas yang harus tersedia di masjid agar pemuda merasa nyaman dan betah. Keenamnya meliputi: akses wifi gratis, kopi, nasi (makanan), rekreasi, remunerasi, dan ruang kreatif untuk beraktivitas.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi harus menjadi rumah kedua bagi pemuda. Dengan fasilitas yang tepat, mereka bisa belajar, berkreasi, dan berkontribusi tanpa merasa dibatasi atau dihakimi,” lanjut Nanang.
Selain fasilitas, Ketua BKPRMI menekankan pentingnya loyalitas dan karirisasi dalam membangun sumber daya manusia di masjid. Generasi muda yang dibimbing dengan baik akan memiliki kemampuan memimpin dan mengelola kegiatan sosial secara berkelanjutan.
Nanang juga menyinggung peran teknologi dan media sosial, yang bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. “Rata-rata anak muda menghabiskan hampir delapan jam sehari di internet. Jika diarahkan dengan benar, ini bisa menjadi media dakwah dan aktivasi pemuda yang efektif,” jelasnya.
Selain itu, masjid harus menjadi pusat edukasi dan pengembangan soft skill, termasuk literasi digital, kewirausahaan, dan penguatan karakter. Hal ini sejalan dengan visi BKPRMI untuk mencetak pemuda yang berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global.
Ketua Umum DPP BKPRMI mencontohkan praktik baik di beberapa masjid. Pemuda yang aktif diberi remunerasi sesuai kontribusi, sehingga kegiatan masjid tidak hanya menjadi aktivitas sosial, tetapi juga pemberdayaan ekonomi.
Ia menambahkan, pemuda yang aktif di masjid berpotensi menjadi jodoh terbaik, pemimpin masa depan, dan agen perubahan di masyarakat, karena mereka terbiasa bekerja sama, berinovasi, dan menanamkan nilai-nilai moral sejak dini.
Nanang menutup paparan dengan pesan optimis: “Jika kita bisa mengaktualisasikan semua potensi ini di setiap masjid, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi pusat kebangkitan generasi muda yang berdaya dan berpengaruh bagi bangsa.”
Acara ini dihadiri puluhan remaja masjid dari seluruh Indonesia, yang menjadi bagian dari ARMI 2025, forum silaturahmi pemuda masjid yang menekankan pengembangan kapasitas, kreativitas, dan kepemimpinan berbasis masjid.
Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam, mengatakan bahwa Kemenag terus mendorong masjid menjadi pusat pemberdayaan umat, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga ruang edukasi dan sosial bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, masjid produktif harus mampu menyesuaikan program dengan kebutuhan generasi muda agar aktivitasnya relevan dan berdampak nyata.
Nurul menambahkan, salah satu fokus program adalah memperkuat kapasitas pengurus masjid dan pemuda melalui pelatihan, fasilitasi sumber daya, serta pendampingan langsung. “Kami ingin masjid menjadi ruang kreatif yang nyaman, aman, dan mendorong anak muda untuk belajar, berinovasi, serta berkontribusi secara positif,” ujarnya.
Selain itu, Nurul menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengurus masjid, dan organisasi kepemudaan seperti BKPRMI. Dengan sinergi yang baik, setiap masjid bisa menjadi rumah kedua bagi pemuda, di mana mereka tidak hanya beribadah, tetapi juga mengembangkan potensi diri dan membangun kepedulian sosial yang kuat.
An/Mr



