Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi menyampaikan Khotbah Jumat (31/3/23) di masjid Al-Ikhlas Kementerian Agama, Jakarta Pusat. Dalam khotbahnya, ia menyampaikan pendapat Al-Ghazali mengenai tingkatan orang berpuasa.
Menurut Al-Ghazali, dalam kitab Minhajul ‘Abidin, Zayadi menjelaskan, terdapat tiga tingkatan orang yang berpuasa. “Tiga tingkatan ini mencerminkan kualitas puasanya,” terangnya.
Tingkat pertama, yaitu puasanya orang awam, yang hanya berpuasa secara lahir, dan belum menyentuh aspek rohani.
“Jenis pertama, puasa umum (awam), yakni puasa yang hanya menahan nafsu lahiriah seperti makan, minum, dan hubungan seks. Puasa lahiriah ini belum menyentuh aspek rohani. Karenanya, hampir semua orang bisa melakukannya,” jelasnya.
Tingkat kedua yaitu khawas. Pada tingkat ini, puasa dilakukan dengan melatih pancaindra agar terhindar dari perilaku-perilaku tercela.
“Puasa seperti ini bisa disebut juga dengan ‘al-shaum al-jawariah’, yakni puasanya seluruh anggota badan dan pancaindra kita,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan para jemaah salat Jumat dengan hadis Nabi Muhammad Saw, yang menyatakan bahwa mulut atau lidah merupakan salah satu anggota tubuh yang paling penting untuk dikendalikan saat berpuasa.
“Menurut Nabi, di antara yang paling urgen untuk dikendalikan ketika puasa adalah mulut (lidah) kita. Sebagaimana disebutkan, 'Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan kata-kata bohong atau ucapan yang tidak benar, maka Allah tidak memedulikan puasanya',” terang Zayadi.
“Mulut sangat vital dalam kehidupan, dan merupakan salah satu anggota badan yang paling aktif setiap hari. Fungsi mulut mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hati. Sayangnya, banyak orang yang menyalahkan fungsinya. Seringkali mulut berbohong dan bersumpah palsu,” imbuhnya.
Terkait itu, lanjutnya, persiapan yang harus dilakukan sebelum berpuasa adalah menjaga mulut. Zayadi pun berpesan kepada para jemaah untuk memperbanyak komunikasi dengan sang pencipta, demi menjaga mulut dari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa.
“Bercakap-cakap dengan Allah, yakni dengan memperbanyak membaca al-Qur’an, karena itu kalam Allah. Ketika membaca dan menghayati al-Qur’an, pada hakikatnya kita sedang bercakap-cakap atau bersama dengan Allah SWT,” jelasnya.
Tingkatan puasa yang ketiga menurut Al-Ghazali yaitu puasa khawas al-khawas. Puasa dalam level ini sudah menyentuh aspek rohani, yakni puasa hati untuk selalu mengingat Allah.
“Puasa ketiga, khawas al-khawas, adalah puasa hati untuk selalu mengingat Allah. Ini puasa terberat,” ungkap Zayadi.
Terakhir, ia berpesan kepada para jemaah agar menggunakan hati untuk mengingat Allah. Puasa, imbuhnya, harus dilakukan seluruh anggota tubuh, termasuk hati.
Ba/Mr



