Jakarta, Bimas Islam -- Masjid Istiqlal menggelar Salat Idulfitri tingkat nasional pada Senin, 31 Maret 2025. Khotbah disampaikan oleh Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie. Ia mengatakan, Ramadan merupakan momentum untuk membentuk ketakwaan dan membangun kebaikan bersama di ruang publik.
Dalam khotbahnya, ia mengutip Hadis Qudsi, “Puasa adalah untuk-Ku,” untuk menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga jalan menuju derajat muttaqin. Menurutnya, puasa membentuk pribadi yang autentik sekaligus memperkuat hubungan sosial dengan sesama.
“Zakat, infak, dan sedekah adalah bukti nyata solidaritas sosial,” ujar Ahmad.
Ia juga mengatakan, Indonesia yang dinobatkan sebagai negara paling dermawan berdasarkan World Giving Index 2024, mencerminkan semangat gotong royong yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Selain itu, ia mengungkapkan, kebersamaan selama Ramadan, seperti buka puasa bersama dan salat tarawih berjemaah, merupakan simbol persatuan. “Kebersamaan bukan sekadar kata, tetapi aksi nyata yang menghadirkan berkah serta memperkuat persatuan bangsa,” ujarnya.
Ahmad juga menyinggung tradisi tadarus Al-Qur’an yang memperkuat budaya literasi. Menurutnya, budaya ini perlu terus dikembangkan untuk mendukung kemajuan Indonesia, terutama di era digital yang penuh tantangan informasi.
Ia menekankan bahwa spirit Ramadan tidak boleh berhenti setelah bulan suci berakhir, melainkan harus menjadi modal kebaikan dalam kehidupan bernegara. “Idulfitri adalah momentum transformasi yang menjadikan kita lebih baik, baik secara pribadi maupun kolektif,” tegasnya.
Salat Idulfitri di Masjid Istiqlal itu turut dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad beserta jajaran, dan diikuti ribuan jemaah. Di akhir khotbah, ia berdoa agar kebaikan Ramadan terus menyinari Indonesia, mewujudkan negeri yang harmonis dan penuh berkah sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.
Msk/Mr



