Jakarta, Bimas Islam -- Sholeh Alkhoiri dan Muhammad Yunus merupakan dua dari 115 peserta Seleksi Calon Imam Masjid untuk Uni Emirat Arab (UEA) 2023. Mereka membagi kisah dan pengalamannya ketika mengikuti tahap wawancara bersama para syekh dari UEA.
Sholeh Alkhoiri, peserta kelahiran Purwokerto merupakan pengurus masjid di daerah Kalimantan Tengah. Alkhoiri bercerita, dirinya ditanya terkait jumlah hafalan juz dan tempatnya belajar al-Qur'an.
Dalam wawancara tersebut, ia diminta melafalkan al-Fatihah dan surah lainnya dengan lantunan murottal. Selain itu, ia juga diminta membacakan teks naskah khotbah berbahasa Arab, serta pertanyaan seputar mazhab fikih, dan fikih ibadah.
“Deg-degan saya, mayoritas tadi teman-teman juga begitu. Tidak banyak bicara, apalagi jabat tangan atau cium tangan, karena kita melihat para syekh sangat berwibawa luar biasa. Kita pun gemetar, walau sudah menyiapkan. Kalau baca al-Quran, karena mungkin sudah biasa, jadi di depan syekh juga bisa maksimal. Tapi, pertanyaan lain terkait fikih, kita canggung karena mereka lebih berilmu,” ucapnya kepada wartawan Bimas Islam (21/5/2023).
Peserta lainnya, Muhammad Yunus yang berasal dari Aceh Utara juga menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan, dirinya merasa gugup ketika diwawancara.
“Ada tiga soal. Pertama, di segi tahfiz, hafalan 20 sampai 30 juz. Berikutnya, seputar ilmu fikih seperti fardu wudu, tayamum, dan seputar salat. Ketiga, disuruh baca khotbah oleh syekh, khotbah yang ada harakat dan tanda bacanya,” ujar Yunus (22/5/2023).
“Kalau kita pandai bahasa Arab, bisa kita jawab. Kalau kita ada persiapan di tahfiznya, optimis bisa lolos. Kalau bisa berbicara bahasa Arab, kita bisa menanggapi pertanyaan para syekh,” pungkasnya.
Fn/Mr



