Jakarta, Bimas Islam -- Doddy Palalek Candra dan Asep Ismatullah merupakan dua imam yang telah bertugas di Uni Emirate Arab (UEA) dalam program pengiriman imam masjid yang digelar Kementerian Agama. Mereka menceritakan pengalamannya pada acara Obsesi (Obrolan se-Jam Soal Islam) yang ditayangkan di kanal YouTube Bimas Islam TV, Jumat (28/4/2023).
Ustaz Doddy, berasal dari Palembang, merupakan angkatan keempat yang diberangkatkan pada tahun 2022. Ia ditempatkan di kota Ajmān. Menurutnya, menjadi imam di UEA merupakan kesempatan dan anugerah yang besar. Ia juga mengatakan, sebagai orang Indonesia, menjadi imam di UEA merupakan sebuah kehormatan.
“Mengimami para makmum yang di situ ada berbagai macam warga negara tentu merupakan suatu pengalaman yang berharga,” ucap Ustaz Doddy.
Ia mengatakan, tugas kesehariannya adalah menjadi imam salat dan mengisi kajian tematik dengan buku yang telah disediakan oleh Kementerian Agama UEA. Di samping itu, ia juga bertugas sebagai khatib Salat Jumat.
Ustaz Doddy mengatakan, selain menjadi imam, ia pun ingin melanjutkan pendidikan di UEA. Kedutaan Indonesia juga ikut berupaya membantunya untuk dapat berkuliah di Universitas Muhammad Bin Zayed kota Abu Dhabi, tentunya dengan sejumlah persyaratan.
Ustaz Doddy menyampaikan, ketika menjadi imam di UEA, ia bisa membawa keluarga setelah memenuhi syarat keberangkatan seperti visa dan paspor. Namun, mereka harus menunggu selama minimal tiga bulan masa percobaan. Ketika sudah mendapat rumah, keluarga dapat menyusul. Ia pun mengungkapkan, rumah yang dihuni sangat layak untuk keluarga.
Berbeda dengan Ustaz Doddy, Ustaz Asep yang berasal dari Banten merupakan angkatan pertama yang diberangkatkan pada tahun 2017. Ia ditempatkan di Sharjah. Ustaz Asep mengatakan, di daerahnya, azan masih dilakukan secara manual, karena di sejumlah wilayah UEA, azan dihubungkan dengan satelit. Suara dari satu orang yang mengumandangkan azan akan disambungkan ke masjid-masjid lain. Jadi, selain menjadi imam salat, ia juga bertugas mengumandangkan azan, membacakan Durusul Masajid, dan melakukan khotbah Jumat.
“Kebetulan saya ditempatkan di sini, satu masjid itu dua imam. Jadi bergantian, misalnya saya yang azan, kemudian beliau (orang sana) yang imam, begitu pula sebaliknya,” ujar Ustaz Asep.
Ustaz Asep juga memotivasi para calon imam di angkatan selanjutnya untuk menguatkan hafalan al-Qur'an. Menurutnya, hafalan merupakan hal penting bagi para imam yang bertugas di UEA. Selain itu, ia juga menyarankan para calon imam untuk untuk terus berlatih meningkatkan kemampuan berbahasa Arab.
“Sering-sering hafalan agar semakin kuat dan semakin bagus. Dari segi bahasa, yang paling penting bisa komunikasi dengan bahasa Arab dasar. Seiring berjalannya waktu, akan semakin fasih,” ungkapnya.
Fn/Mr



