Jakarta, Bimas Islam --- Peran sopir ambulans dan pengantar jenazah di masa pandemi Covid-19 merupakan kegiatan kemanusiaan yang sangat mulia. Profesi ini mempertaruhkan kesehatan pribadi karena Covid-19 begitu cepat penularannya.
Faturrahman (35) merupakan Penyuluh Agama Islam non-PNS Kecamatan Jagakarsa memilih mengabdikan dirinya untuk menjadi sopir ambulans sejak 10 tahun yang lalu.
“Apalagi sejak adanya Covid-19 profesi seperti saya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dan dengan profesi yang saya tekuni sejak 10 tahun ini, bagi saya ada rasa kepuasan tersendiri dalam membantu masyarakat,” kisahnya kepada bimasislam melalui sambungan telepon, Selasa (3/8).
Bagi Faturrahman, kepuasan batin yang ia rasakan saat membantu mengantarkan pasien ke rumah sakit atau mengantarkan jenazah. Dia bertekad untuk meneruskan profesi kemanusiaan ini.
“Bahkan dulu saya pernah beberapa kali mendaftar ke yayasan atau lembaga terkait, yang melayani pemulasaraan jenazah atau lembaga yang bergerak pada aksi kemanusiaan, tapi alhamdulillah pada masa pandemi Covid-19 saya diamanahi satu unit mobil ambulans oleh Bapak H. Purwanto, anggota DPRD DKI Jakarta,” kisahnya.
Sejak pandemi Covid-19, salah satu pengalaman yang membuat Faturrahman sedih dan menguatkan tekadnya sebagai sopir ambulans, ialah ketika mengantarkan jenazah seorang ibu, kemudian pada esok harinya Faturrahman kembali mengantarkan jenazah putri dari ibu tersebut.
Selain itu, Faturrahman juga menceritakan kesulitannya menemukan rumah sakit. “Karena lonjakan pasien Covid-19 di Jakarta semakin meningkat, maka ruang perawatan di RS juga penuh. Pernah satu hari saya mendatangi 15 RS untuk pasien Covid-19 yang saya bawa, tapi semuanya penuh,” katanya.
Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kota Jakarta Selatan ini, profesinya sebagai sopir ambulans tidak mengurangi tugasnya sebagai Penyuluh Agama di tengah masyarakat. Selain menyosialisasikan protokol kesehatan, Faturrahman juga memilih turun langsung hadir membantu masyarakat yang terinfeksi maupun yang meninggal akibat Covid-19.
“Ketika masyarakat cemas karena takut tertular Covid-19, profesi saya justru mengharuskan saya untuk kontak erat dengan pasien yang terinfeksi Covid-19. Dari sinilah pengalaman yang saya dapatkan, bahwa ikhtiar menjaga prokes dengan ketat harus dilakukan dan meminta perlindungan kepada Allah SWT,” ujar Faturrahman.
Faturrahman mengatakan, ikhtiar yang dilakukan seperti disiplin menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan mobil ambulans selalu dibersihkan dengan disemprot cairan disinfektan setiap kali selesai digunakan.
Meski demikian Faturrahman mengisahkan, bahwa dirinya merupakan penyintas Covid-19. Pada awal Januari 2020 dirinya beserta keluarganya pernah terinfeksi Covid-19. “Alhamdulillah saya dan keluarga masih diberi kesempatan untuk hidup, kami semua diberi kesembuhan. Dan rasa syukur ini saya semakin bertekad untuk semakin semangat membantu masyarakat melalui profesi saya,” tandasnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



