Tangerang Selatan, bimasislam --- Penulis buku yang baik lahir dari seorang pembaca buku yang baik. Ungkapan yang menyebutkan korelasi positif antara proses menulis dan buah hasil bacaan tersebut mengemuka dalam diskusi hangat antara Penulis Buku Sekali Hidup Sepenuh Hati, Fakhrizal Muhammad dengan 40 peserta Kelas Menulis Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI yang bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama, Ciputat, Senin (15/04).
“Diantara penulis besar yang pernah dimiliki bangsa ini, seperti Pramoedya Ananta Toer, Muhammad Hatta atau Buya Hamka merekas semua lahir dari latar seorang pembaca buku yang baik, ungkap Fakhrizal.
Kualitas bacaan yang baik ini menurut Fakhrizal diibaratkan sebagai gizi yang mengisi energi penulis dalam menuangkan ide dan gagasannya, yang kemudian akan mengalir dalam sebuah karya tulis yang enak dibaca dan dicerna oleh pembaca.
“Ketika saya membaca karya Carolyn Ellis tentang Kajian Autoethnography, di situ saya benar-benar belajar bagaimana proses kreatif menulis itu dapat diterjemahkan dalam jenis model tulisan bertutur yang mengalir apa adanya, dan pola ini mirip sekali dengan style nenek moyang kita dahulu saat berdongeng atau bercerita”, jelas Fakhrizal.
Di hadapan peserta yang mewakili dari hampir semua unsur ASN Kementerian Agama itu Fakhrizal menambahkan beberapa catatan, tentang dua standar kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang penulis, yaitu bahasa dan komunikasi.
“Dari sisi kompetensi bahasa, perlu dicatat bahwa titik tekannya lebih disandarkan pada identifikasi kemampuan penulis dalam menguasai tata bahasa, tanda baca, maupun logika Bahasa, sedangkan di sisi komunikasi lebih mengarah pada kemampuan mengantarkan psikologi penulis yang semula terbiasa berseni tutur secara lisan menjadi sebuah kata atau diksi, baik dalam bentuk naratif, deskriptif maupun argumentatif, tandas Fakhrizal.
Pada forum yang sama, Kassubag TU dan Humas Itjen Kementerian Agama Nurul Badruttamam, mengucapkan sikap optimis terkait perjalanan program Kelas Menulis 2019 ini. ASN yang pernah menulis buku Menata Mimpi Besar Haji Indonesia ini, menyebutkan output kongkrit yang akan dicapai, yaitu sebuah program lanjutan berupa pembentukan Komunitas Kelas Menulis Kemenag yang diisi oleh para pegawai Kemenag dengan minat menulis, yang akan dimentori oleh para pakar internal maupun eksternal Kemenag, dengan target capaian “satu tahun, satu orang, satu buku”.
“Sebenarnya apa yang telah diikhtiarkan oleh Itjen Kemenag melalui Kelas Menulis ini adalah dorongan kepada keluarga Besar Kementerian Agama untuk dapat terlibat aktif menjawab perkembangan literasi digital saat ini yang tampak massif dan nyata penetrasinya, paling tidak dengan mantra “satu tahun, satu orang, satu buku” maka dunia perbukuan di Indonesia akan semakin lebih berwarna, atau bisa disebut sebagai bentuk lain dari kehadiran negara kepada warganegara dan bangsa”, pungkasnya.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini, Minggu-Selasa (14-16/03), dihadiri oleh 45 orang peserta, terdiri atas unsur Penyuluh Agama, Penghulu, Guru Madrasah, Dosen UIN Jakarta, Biro HDI Kemenag, Ditjen Bimas Islam, Ditjen Bimas Hindu, Ditjen Bimas Katolik, Ditjen Bimas Kristen, Ditjen Bimas Budha, serta staf dan Auditor Itjen Kementerian Agama.
Penulis: Syafaat
Editor: Syafaat
Foto: Bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



