Bangli, Bimas Islam -- Di balik udara sejuk dan kabut tipis yang kerap menyelimuti kawasan wisata Kintamani, berdiri Kantor Urusan Agama (KUA) Kintamani sebagai simbol nyata harmoni dan toleransi antarumat beragama di Bali. Terletak di Jalan Raya Kintamani, Kabupaten Bangli, KUA bertipologi C ini menjadi rumah bagi semangat lintas iman.
Sejak tahun 2022, KUA Kintamani telah menginisiasi Layanan Lintas Agama, sebuah inovasi pelayanan yang membuka ruang konsultasi agama, moderasi beragama, hingga bimbingan perkawinan bagi calon pengantin dari latar belakang agama berbeda.
Letaknya yang berjarak sekitar 58 km dari Bandara Ngurah Rai, dengan akses jalan nasional yang mulus dan lebar, menjadikan KUA Kintamani mudah dijangkau. Meski kemacetan kerap terjadi antara pukul 11.00 hingga 15.00 WITA akibat kepadatan wisatawan, kantor ini tetap aktif melayani masyarakat dengan dukungan fasilitas listrik dan internet yang memadai.
Lebih dari itu, KUA Kintamani berdiri di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Sebagai contoh, di Desa Kutuh, masjid berdiri damai di tengah permukiman mayoritas Hindu, lengkap dengan pengeras suara untuk azan dan tadarus tanpa gangguan. Di desa yang sama, seorang sesepuh Muslim dikenal ahli dalam memainkan gamelan Bali dan kerap menjadi guru bagi umat Hindu yang ingin belajar seni tradisional tersebut.
Sisi unik lain datang dari Desa Batur, tempat seorang siswi Muslim menjuarai lomba mekidung tingkat Provinsi Bali. Ia tak hanya piawai menyanyikan kidung berbahasa Bali halus, tetapi juga menciptakan syair sendiri demi melestarikan warisan budaya lokal.
Kehidupan sehari-hari warga Kintamani memperlihatkan kuatnya jalinan sosial lintas agama. Saat ada kelahiran, pernikahan, atau kematian, warga saling mengunjungi dan membantu tanpa melihat perbedaan keyakinan.
Semangat moderasi beragama juga tampak saat momen takbir keliling Iduladha. Para pemuda yang tegabung dalam Remaja Masjid Desa Kintamani melakukan pawai, diiringi Rebana dan bedug yang diikuti oleh Grup Kesenian Pemuda Hindu dan Grup Kesenian Pemuda Buddhis dan Tionghoa. Masing-masing diberi waktu untuk tampil di sela-sela takbir keliling.
Harmoni yang terjalin di Kintamani bukan sekadar simbol, melainkan wujud nyata dari praktik moderasi beragama yang hidup dalam keseharian. Keberadaan KUA Kintamani sebagai ruang terbuka lintas iman menegaskan bahwa toleransi bukan hanya slogan, tetapi bisa menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan bersama yang damai dan saling menghargai di tengah keberagaman.
Mr



