Jakarta, Bimas Islam – Psikolog Keluarga, Alissa Wahid menjadi narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi Kolaborasi Program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat, Sabtu (27/2/2023) di Jakarta. Ia mengatakan, Program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat merupakan jawaban atas persoalan keluarga terkait kemandirian ekonomi.
“Kemenag dengan sumber daya kuncinya dari pusat sampai KUA akan mendampingi masyarakat kelompok sasaran sebagai penerima manfaat,” jelasnya.
Dikatakan Alissa, mustahik dan penerima manfaat menginginkan adanya peningkatan pendapatan, kualitas hidup dan spiritualitas, ketahanan ekonomi keluarga, penurunan gaya hidup konsumtif, terciptanya peluang usaha, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan layanan dasar.
“Itulah manfaat yang ingin diberikan kepada umat oleh Kemenag. Makanya, dibuat Program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat. Di dalamnya ada program pemberdayaannya, bantuan modal usaha, dan pengembangan market place serta jejaring yang menjadi aktivitas kuncinya. Di situlah kehadiran BAZ dan LAZ sebagai mitra menjadi penting,” tuturnya.
Menurut Alissa, Program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat tidak terlepas dari visi KUA, yang bertanggung jawab membangun masyarakat saleh, moderat, cerdas, dan unggul berdasarkan Renstra Kemenag, sehingga terwujud Indonesia yang maju. Kemenag, imbuhnya, melihat secara tajam bahwa KUA memiliki peran yang bisa dioptimalkan untuk melayani umat.
“Selama ini KUA hanya dikembangkan untuk pencatatan nikah, tapi Kemenag ingin melihat KUA bisa menjadi pusat layanan keagamaan. Maka layanan KUA ini harus dilengkapi dan dijalankan secara profesional,” ungkap Alissa.
Baginya, cita-cita menjadikan KUA sebagai garda terdepan pelayanan keagamaan perlu didukung dengan kesiapan yang matang. Karenanya, Kemenag menggalakkan program Revitalisasi KUA.
“Revitalisasi KUA bertujuan meningkatkan kualitas, maka layanan apa saja di KUA akan diperkuat,” pungkasnya.
Ba/Mr



