Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi menjelaskan, tujuan berpuasa adalah menjadi pribadi yang muttaqin, sebagaimana dinarasikan dalam al-Qur’an, 'la'allakum tattaqun' yang berarti 'semoga kamu menjadi bertakwa'. Menurutnya, redaksi 'la'allakum' tidak hanya sebatas harapan, namun harus diusahakan secara maksimal.
Hal itu disampaikannya dalam Kultum berjudul 'Bulan Ramadan sebagai Sarana Peningkatan Ibadah’ yang digelar di Masjid al-Ikhlas Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Senin (27/3/2023).
“Pribadi Muttaqin merupakan hasil akhir dari tujuan puasa. Sedangkan penggunaan kata 'la'allakum tattaqun' sebuah bentuk pengharapan yang sifatnya bukan halusinasi, tetapi realistis. Jika benar-benar diikhtiarkan maksimal, derajat ketakwaan itu bisa digapai,” jelasnya.
Mengutip pendapat Nurkhalis Majid, Zayadi menjelaskan, makna ‘takwa’ merupakan pelaksanaan perintah, meninggalkan larangan yang dibarengi dengan kesadaran kritis bahwa manusia selalu dipantau dan diawasi oleh Allah SWT. Takwa, imbuhnya, bermakna fungsional bahwa manusia adalah pribadi-pribadi yang selalu dalam pengawasan Allah SWT.
“Pribadi-pribadi yang semacam itu (bertakwa), yang diharapkan dari ritual puasa ini,” jelasnya.
“Takwa itu akronim seperti yang disampaikan Al-Ghazali; ‘Ta’ itu tawadhu, ‘Qaf’ itu qana'ah, ‘Waw’ itu warok, dan ‘Ya’ itu yakin. Pribadi-pribadi tawaduk, qana'ah, wara’ dan yakin itulah buah dari ritual puasa yang dijalankan satu bulan Ramadan ini,” sambungnya.
Menurut Zayadi, terdapat sejumlah alasan manusia harus bersemangat menjalani puasa Ramadan. Selain menjadi pribadi yang bertakwa, di bulan Ramadan terdapat keberkahan dan pelipatgandaan pahala.
“Kenapa kita harus tetap menjaga semangat? Tentu karena ada keberkahan, pelipatgandaan kebaikan, dan peningkatan kualitas ujrah (pahala),” jelasnya.
Zayadi mengatakan, alasan berikutnya yang membuat umat Islam harus bersemangat menjalani puasa Ramadan adalah karena al-Qur’an diturunkan di dalam bulan ini.
“Di Ramadan, al-Qur’an diturunkan (Nuzulul Quran) sebagai petunjuk untuk umat manusia. Sejatinya al-Quran adalah kitab kehidupan. Tidak ada dimensi kehidupan manusia, norma atau rujukannya, yang tidak ada di dalam al-Qur’an,” pungkasnya.
Ba/Mr



