Jakarta, Bimas Islam -- Dalam membaca tantangan dan dinamika Islam di negara Eropa, perhelatan International Conference on Religious Moderation (ICROM) 2024 meengadakan sesi bedah buku bertajuk "Travelling Home: Essays on Islam In Europe", karya Sheikh Abdal Hakim Murad. Buku ini mengupas perjalanan spiritual para mualaf di Eropa yang berusaha menemukan kembali identitas keislaman di tengah berbagai tantangan sosial dan kultural.
Judul buku ini memilih istilah "traveling" alih-alih "returning" untuk menggambarkan proses pulang yang sarat makna. Sheikh Murad menjelaskan, perjalanan ini bukan hanya fisik, melainkan juga spiritual, mencerminkan upaya Muslim Eropa dalam menyesuaikan keyakinan mereka di lingkungan yang kadang tidak ramah terhadap Islam.
Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Kemenag, Dedi Slamet Riyadi, yang turut menjadi penerjemah buku ini, menekankan pentingnya konsep "pulang" sebagai proses reflektif. "Bagi komunitas Muslim di Eropa, identifikasi terhadap nilai-nilai Islam tradisional menjadi penting dalam menghadapi tuntutan modernitas," ujar Dedi di Jakarta, Selasa (5/11/2024)..
Buku ini mengupas sejarah panjang Islam, dari Timur Tengah hingga Eropa, yang membentuk beragam interpretasi Islam. Sheikh Murad menggambarkan bahwa Muslim Eropa menghadapi tantangan dalam menentukan identitas Islam mereka—apakah sufistik, permisif, atau moderat.
Dedi menjelaskan, pertumbuhan komunitas Muslim di Eropa, seperti di Inggris yang diproyeksikan mencapai 13,4 juta pada 2050, juga memicu isu-isu seperti ketakutan dan prasangka terhadap Islam. “Fenomena ini diperparah oleh meningkatnya sentimen nasionalis dan xenofobia di Eropa,” kata Dedi.
Selain tantangan dari luar, perbedaan pandangan antargenerasi dalam komunitas Muslim Eropa juga menjadi perhatian. Buku ini mendorong komunitas Muslim Eropa untuk menemukan "rumah" spiritual mereka, mengedepankan nilai-nilai tradisional yang inklusif, namun tetap adaptif terhadap konteks modern.
Dedi menegaskan harapan Sheikh Murad bahwa Muslim di Eropa dapat menemukan identitas Islam yang dapat diterima, baik oleh sesama Muslim maupun oleh masyarakat sekitar. "Komunitas Muslim di Barat memerlukan bentuk Islam yang mampu menjadi jembatan, baik dengan sesama Muslim maupun dengan masyarakat sekitarnya," tuturnya.
Fn/Mr



