Bali, Bimas Islam — Lembaga Amil Zakat (LAZ) Dompet Sosial Madani (DSM) Bali mengembangkan program pemberdayaan ekonomi dan kemanusiaan yang bersifat inklusif, mencakup penerima manfaat dari berbagai agama. Program ini dibiayai oleh dana infak, sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (DSKL) yang dikelola LAZ DSM.
Selain program Pemberdayaan Ekonomi Umat (PEU), LAZ DSM juga bekerja sama dengan PT. Pertamina Patra Niaga untuk menjalankan berbagai program, seperti Peduli Kawan HIV/AIDS dan Narkoba, pengelolaan sampah berbasis agama KNR (Ecoreligion Waste Managements System Kedongan Ngardi Resik), program pertanian lestari Utari (Uma Palak Lestari), dan Desa Tangguh Bencana (Destana). Program lainnya mencakup pelatihan pembuatan hand sanitizer untuk Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pelatihan pembuatan pupuk kompos, serta pengembangan usaha difabel melalui Difapreneur dan pembentukan Forum Relawan Bencana Serangan.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, mengapresiasi langkah LAZ DSM Bali dalam melaksanakan program-program kemanusiaan inklusif. Ia menegaskan pentingnya peran LAZ dalam mempercepat pemerataan ekonomi dan menciptakan keadilan sosial.
"Kami sangat mendukung LAZ untuk menyiapkan program-program inklusif bagi masyarakat," ujar Waryono saat kunjungan pembinaan di LAZ DSM Bali, Sabtu (19/10/2024).
Waryono juga menyebut bahwa zakat, infak, sedekah, dan DSKL dapat menjadi instrumen sosial yang luas dan inklusif. Ia mengapresiasi kemampuan LAZ DSM Bali dalam menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk BUMN dan LSM, untuk menjalankan program-program kemanusiaan yang bermanfaat bagi semua.
"Penting bagi lembaga zakat untuk berani diaudit. Transparansi pengelolaan zakat adalah kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat," tegas Waryono.
Direktur LAZ DSM, Andy Krisna menjelaskan, DSM telah mendampingi beberapa kawasan, termasuk sekitar Pura tertua di Bali. Pada 2024, DSM menargetkan pengelolaan dana zakat sebesar Rp14 miliar, naik dari Rp12 miliar pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, Direktur LAZ BSI Maslahat, Shobirin, mengatakan, profesi amil zakat adalah medan perjuangan yang memerlukan dedikasi tinggi, layaknya profesi dokter atau guru.
"Profesi amil ini adalah panggilan hati. Seorang amil harus siap melayani umat kapan saja, 24 jam," ujar Shobiri.
Ba/Mr



