Semarang, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) terus mendorong penguatan peran Kantor Urusan Agama (KUA) agar layanan keagamaan semakin dekat dan berdampak bagi masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui implementasi Asta Protas, delapan program prioritas transformasi layanan Kemenag yang menitikberatkan pada kemaslahatan keluarga, kemanusiaan, dan lingkungan.
Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad mengatakan, Asta Protas harus dijalankan secara relevan agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga. Menurutnya, layanan keagamaan tidak boleh terbatas pada urusan ibadah, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan sosial dan lingkungan.
“Penguatan ekoteologi sangat penting. Krisis iklim adalah isu global, dan Indonesia harus berada di garis depan pelestarian lingkungan. Itu harus berangkat dari kesadaran keagamaan bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Layanan keagamaan yang berdampak harus hadir di setiap problem masyarakat,” ujarnya saat membuka Kegiatan Sinergitas Program Asta Protas Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah di Semarang, Sabtu (27/9/2025).
Abu Rokhmad menyebut, sejumlah langkah konkret akan ditempuh untuk memperkuat peran KUA. Di antaranya penguatan bimbingan perkawinan, pengarusutamaan keluarga maslahat, pembangunan KUA inklusif dan ramah, serta pemberdayaan ekonomi umat.
Ia menilai keluarga memiliki posisi strategis dalam menyukseskan program Asta Protas. “Jika keluarga sebagai unit terkecil tidak selesai, dampaknya panjang. Karena itu kita perlu sinergi lintas kementerian seperti Kemenko PMK dan Bappenas. Di lapangan, penyuluh agama dan penghulu adalah fighter, petarung yang harus benar-benar hadir di tengah masyarakat. Semua program Bimas Islam harus terukur dan memberi manfaat luas,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, menjelaskan, dari delapan program Asta Protas, terdapat empat poin yang menjadi fokus utama Bimas Islam. Keempatnya meliputi peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan ekoteologi, serta layanan keagamaan berdampak.
“Tataran implementasi Asta Protas harus dimaksimalkan. KUA sudah memiliki early warning system kerukunan, program pemberdayaan ekonomi umat, serta layanan berbasis ekoteologi. Kualitas layanan diukur dari seberapa besar dampaknya dirasakan masyarakat. Semua itu tumpuannya ada pada keluarga sakinah,” jelas Zayadi.
Zayadi menegaskan, KUA bukan hanya pusat administrasi pernikahan, tetapi juga motor penggerak penguatan keluarga dan kerukunan sosial. “Jika keluarga sakinah terwujud, maka layanan keagamaan berdampak akan semakin nyata, dan Asta Protas benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” tandasnya.
Msk/Mr



