Bogor, Bimas Islam – Menteri Agama Periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, menegaskan pentingnya peran agama dalam menjaga ketahanan nasional di tengah keberagaman Indonesia. Ia mengajak penyuluh agama untuk menjadi ujung tombak dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi yang sesuai dengan Pancasila. Menurutnya, pemahaman agama yang moderat adalah kunci untuk merajut persatuan sekaligus menghadapi tantangan kebangsaan, seperti intoleransi.
“Ketahanan nasional harus memandang agama sebagai sesuatu yang sangat penting. Nilai-nilai agama yang moderat, tidak ekstrem, tidak berlebihan, dan tidak melampaui batas harus kita rawat dari waktu ke waktu,” ujar Lukman dalam acara Kemah Moderasi Beragama di Bogor, Selasa (3/12/2024).
Lukman mengatakan, Indonesia sebagai bangsa yang majemuk sekaligus agamis membutuhkan nilai-nilai agama untuk menjaga keutuhan keragamannya. Dalam hal ini, penyuluh agama memiliki peran strategis untuk mewujudkannya.
"Penyuluh agama harus mampu menghadirkan agama sebagai faktor yang tidak hanya merajut keragaman, tetapi juga menjadi ruh yang menjiwai seluruh aktivitas bangsa di tengah kemajemukan," jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa penyuluh agama, apa pun agamanya, adalah bagian dari masyarakat. Penyuluh agama memahami dinamika masyarakat dan dapat menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang agamis, yang melandaskan aktivitasnya pada nilai-nilai agama. Oleh karena itu, penyuluh agama perlu terus diberikan wawasan tentang dinamika kebangsaan dan kenegaraan, khususnya dalam perspektif ketahanan nasional. Dengan begitu, mereka akan selalu relevan menghadapi tantangan zaman,” tambahnya.
Lukman turut mengapresiasi Direktorat Penerangan Agama Islam yang telah menggelar Kemah Moderasi Beragama. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengumpulkan penyuluh agama dari berbagai daerah di Indonesia.
Kemah Moderasi Beragama berlangsung mulai Senin hingga Rabu (2-4/12/2024). Kegiatan itu bertujuan memperkuat peran penyuluh agama dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama di tengah keberagaman. Acara ini memberi pemahaman kepada penyuluh agama tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama, menghindari ekstremisme, dan mendorong kerukunan antarumat beragama. Selain itu, para penyuluh juga dilatih untuk menjadi agen perubahan sosial yang mendukung ketahanan nasional dan stabilitas sosial melalui pendekatan agama yang toleran dan seimbang.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk perwakilan dari BNPT, Densus 88, dan peneliti isu terorisme, untuk memberikan wawasan lebih dalam tentang tantangan moderasi beragama di Indonesia.
Ba/Mr



