Denpasar Selatan, Bimas Islam -- Menteri Agama Periode 2014–2019, Lukman Hakim Saifuddin, mengungkapkan pentingnya ajaran agama sebagai landasan utama dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Hal itu disampaikannya dalam diskusi panel bertajuk Merajut Harmoni dalam Beragama di acara Tri Hita Karana Forum yang berlangsung di Denpasar Selatan, Minggu (15/12/2024).
Menurut Lukman, semua agama mengajarkan pentingnya merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat manusia. “Menjaga lingkungan itu ajaran universal setiap agama. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk merusak lingkungan,” tegas Lukman.
Ia menambahkan, menjaga lingkungan tidak hanya merupakan tugas sosial, tetapi juga bagian dari ibadah. Perspektif ini menjadikan pelestarian alam sebagai kewajiban spiritual yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Agama memberi landasan kuat untuk mencintai dan merawat alam. Ini harus menjadi bagian dari praktik keimanan kita sehari-hari,” ungkapnya.
Lukman menjelaskan, nilai-nilai universal dalam agama dapat menjadi jawaban atas tantangan lingkungan global, seperti kerusakan ekosistem dan perubahan iklim. Ia menegaskan, kerusakan lingkungan berdampak pada seluruh umat manusia tanpa memandang agama, sehingga diperlukan kerja sama lintas iman yang berlandaskan ajaran agama.
“Kerusakan lingkungan tidak hanya merugikan satu kelompok, tetapi seluruh umat manusia. Nilai-nilai universal dalam agama seharusnya menjadi landasan utama untuk menjaga alam,” katanya.
Namun, Lukman juga mengingatkan tantangan yang dihadapi umat beragama, yaitu kecenderungan untuk terlalu fokus pada aspek ibadah ajaran masing-masing sehingga melupakan nilai-nilai universal.
“Sering kali umat beragama lupa bahwa ada ajaran universal yang sama pentingnya untuk dikedepankan. Dalam konteks masyarakat yang heterogen, kita harus memprioritaskan ajaran agama yang universal, seperti menjaga lingkungan,” jelasnya.
Lukman juga menekankan bahwa perbedaan ritual keagamaan adalah hal yang alami dan tidak perlu dipersoalkan. Ia mengajak umat beragama untuk bersikap arif dalam menyikapi keragaman, mengingat perbedaan merupakan bagian dari kehidupan.
“Perbedaan adalah keniscayaan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkan nilai-nilai universal dalam agama untuk menciptakan harmoni dan menjaga keberlanjutan alam,” tutupnya.
Diskusi ini menjadi momentum untuk menggarisbawahi pentingnya peran agama dalam membangun kesadaran kolektif untuk melestarikan lingkungan.
Fn/Mr



