Jakarta, Bimas Islam --- Moderasi Beragama sebagai cara pandang pertengahan dalam beragama membutuhkan media dalam proses sosialisasi dan publikasi kepada masyarakat. Karenanya, media pun diharapkan memiliki cara pandang moderat dalam menyajikan konten kepada masyarakat.
"Media harus memiliki cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang moderat, jangan berlebihan dan melampaui batas," ungkap mantan Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam Temu Da'i Media yang diselenggarakan Ditjen Bimas Islam Kemenag di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (26/12/21) siang.
Lukman menambahkan, di era globalisasi dan proses digitalisasi, media menjadi niscaya. Katanya, tidak ada orang yang bisa hidup tanpa media.
"Media penting karena manusia makhluk sosial, selalu berkomunikasi, dan membangun relasi sehingga perlu medium untuk saling berinteraksi. Media sangat penting," tegasnya.
Meski demikian, Lukman berpendapat, media merupakan refleksi dari masyarakat. Karenanya, Lukman mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan pemahaman dan kualitas sebab perkembangan media amat dipengaruhi oleh kualitas masyarakat.
"Media sebenarnya refleksi dari masyarakatnya. Media hanya refleksi, pengejawantahan, manifestasi dari yang dipahami, dirasakan, dan diungkapkan masyarakat," pungkasnya.
Temu Da'i Media dihadiri Menag Yaqut Cholil Qoumas, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Pimpinan Majelis Rasulullah Habib Nabil Al-Musawa, Penceramah Agama Buya Ar-Razy Hasyim, Penceramah Milenial Habib Husein Ja'far Al-Hadar dan belasan narasumber lain dari intelektual muslim, penggerak Moderasi Beragama, dan praktisi media.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



