Yogyakarta, bimasislam -- Guru Besar Ilmu Sejarah Islam UIN Yogyakarta, Machasin memaparkan data penelitian atas ayat-ayat peperangan dan ayat-ayat perdamaian yang terdapat di dalam Al-Qura’an saat membuka presentasinya di hadapan peserta Sarasehan Penanggulangan Radikalisme dan Intoleransi Melalui Bahasa Agama.
Di hadapan 200 orang peserta yang merupakan utusan dari pejabat Kementerian Agama D.I Yogyakarta, penyuluh agama Islam, pimpinan ormas Islam, perguruan tinggi Islam dan jamaah Masjid Syuhada Yogyakarta, Machasin menggunakan pendekatan kontekstual dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.
“Untuk merawat dan menjaga moderasi Islam yang saat ini dinikmati, kita tidak akan pernah terlepas dari rujukan utama, yaitu Al-Qura’ an”, terang Machasin saat menjadi narasumber utama Sarasehan Penanggulangan Radikalisme dan Intoleransi Melalui Bahasa Agama yang diselenggarakan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, di Yogyakarta, Sabtu (23/9).
Machasin menegaskan diperlukan penguasaan ilmu tafsir dalam membaca ayat ayat Alquran. “Hanya saja yang perlu ditekankan di sini adalah penguasaan kita dalam membaca dengan penguasaan ilmu tafsir yang mumpuni, dan menempatkannya dalam kesesuaian konteks dan makna”, tegas Machasin.
Lebih lanjut Machasin menjelaskan bahwa dirinya lebih nyaman menggunakan kata ekstrimisme ketimbang radikalisme. Dirinya ini juga menawarkan beberapa langkah lanjutan dalam merawat sikap moderasi Islam.
Lantas apa sajakah langkah tersebut? Dengan gaya khasnya yang super kalem Machasin menyebutkan, bahwa yang pertama adalah penyebaran ide moderasi Islam dengan cara meyakinkan. Kedua ketegasan tokoh pemegang otoritas, ketiga penguatan nalar dan penyimpulan yang sehat. Keempat pembiasaan atas perbedaan dan yang terakhir mengupayakan dialog intensif dan kontinyu.
Di tempat yang sama, Ditjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin optimis tentang kemitraan strategis dan penerimaan partisipasi publik yang selama ini pemerintah bangun, utamanya dalam penanggulangan radikalisme dan intoleransi.
“Upaya Ditjen Bimas Islam dalam memaksimalkan penanggulangan radikalisme dan intoleransi salah satunya adalah dengan membangun kesadaran dan pemahaman banyak pihak, selain internal pegawai juga mitra organisasi dan lembaga keislaman yang ada di Indonesia, pungkas Amin.
(syafaat/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



