Kuningan, Bimas Islam -- Gerimis masih berlangsung ketika bimasislam tiba di KUA Ciawigebang, Jalan Ciawigebang-Kadurama Nomor 1, Desa Kadurama, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Jumat (24/12/21) pagi. Usai membayar ongkos, bimasislam bergegas menuju front office KUA yang dibangun dengan dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ini.
"Selamat pagi, Pak. Saya Rita, mohon maaf, Pak, apakah ada yang bisa dibantu?" sapa lembut seorang petugas di front office seraya menelungkupkan tangan.
"Mohon maaf, Pak, silakan cek suhu terlebih dahulu," tambahnya seraya menunjuk ke arah mesin thermo face.
Berselang detik, thermo face yang merupakan bantuan dari Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag ini bisa mendeteksi suhu tubuh, wajah, sekaligus memberikan keterangan apakah pengunjung bermasker atau tidak.
Setelah itu, bimasislam diminta menunggu sejenak di kursi tunggu yang terletak di dekat front office. Rita bergegas menuju ke ruang tengah, kemudian datang bersama sosok berkacamata, peci hitam, dan batik dengan tinggi badan sekitar 160 sentimeter.
Dengan ramah, pria yang tak lain merupakan Kepala KUA Ciawigebang, Iman Rohiman mempersilakan bimasislam masuk ke ruang kerjanya. "Mangga, Pak," ungkapnya dengan logat Sunda yang fasih.
Makin Percaya Diri
Dalam perbincangan hangat dengan bimasislam, Iman mengaku lebih percaya diri setelah KUA tempatnya bekerja direvitalisasi. Program unggulan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas ini berhasil membuat KUA sejajar dengan instansi lain di tingkat kecamatan.
"Tentu jauh lebih baik karena fasilitas pelayanan yang semakin lengkap. KUA lebih percaya diri dalam melayani setelah direvitalisasi," ungkap pria 3 anak ini.
Fasilitas yang dimaksud Iman tentu saja terkait sarana fisik seperti bangunan dan seperangkat alat pelayanan. Gedung KUA yang dibangun pada 2019 ini berdiri di atas lahan seluas 851 meter yang terdiri dari luas bangunan 276 meter persegi, teras 24 meter persegi, halaman belakang 90 meter persegi, dan halaman depan 461 meter persegi berupa taman dan tempat parkir.
"Ada front office dan sejumlah ruangan seperti ruang tunggu, konsultasi, Kepala KUA, Jabatan Fungsional Umum (JFU) dan staf, penghulu, penyuluh, arsip, dapur, 3 toilet, pengawas Pendidik Agama Islam, musala, balai nikah, gudang, dan ruang tengah yang merupakan ruang kerja sekaligus ruang tamu," ungkap Iman menjelaskan.
"KUA Ciawigebang ini juga dilengkapi taman, tempat parkir, dan fasilitas khusus untuk penyandang disabilitas," tambahnya.
Berbasis Teknologi
Terkait perlengkapan pelayanan, sejumlah alat berbasis teknologi bisa dijumpai di KUA Ciawigebang seperti thermo face, papan informasi digital untuk mengakses semua layanan KUA, theodolit untuk menentukan arah kiblat, rak buku lengkap dengan sejumlah buku bacaan, dan perangkat kerja berbasis teknologi yang digunakan oleh staf KUA.
"Semua berbasis website. Mulai dari Sistem Informasi Masjid (Simas), Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah), Sistem Informasi Wakaf (Siwak), dan Whatsapp Center yang dikelola oleh JFU KUA Ciawigebang," terang lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon ini.
Perangkat teknologi tersebut diakui Iman tak hanya memudahkan staf dan masyarakat, tetapi juga menjadi solusi selama pandemi Covid-19 ketika tatap muka dan interaksi fisik dibatasi. "Alhamdulillah semuanya lancar," terangnya sumringah.
Pelayanan Prima
Guna menunjang layanan prima di KUA Ciawigebang, sejumlah personil dilibatkan secara aktif untuk melayani masyarakat. Tidak hanya terkait pernikahan, KUA Ciawigebang juga memberikan layanan keagamaan, sosial, dan ekonomi.
"Ada Kepala KUA, 2 Penghulu, 3 Penyuluh Agama Islam PNS, 3 JFU, 2 Honorer, 2 Pramubakti, dan 17 Penyuluh Agama Islam non-PNS," ungkap Iman.
Iman menambahkan, hampir semua staf di KUA Ciawigebang telah mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) yang diselenggarakan Kemenag Pusat maupun Kanwil Kemenag Provinsi. Bimtek tersebut dipergilirkan bagi semua staf.
"Ada sekitar 11 Bimtek dari pusat. Kita ikutkan staf secara bergilir sesuai kebutuhan. Belum lagi bimtek di tingkat provinsi dan kabupaten untuk peningkatan kapasitas layanan prima," tambahnya.
Terkait layanan keagamaan, sosial, dan ekonomi, KUA Ciawigebang melibatkan Penyuluh Agama Islam. Penyuluh dilibatkan dalam berbagai bimbingan dan penyuluhan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
"Kita aktif memberikan bimbingan di majelis taklim, masjid, dan warga binaan. Mulai dari pengukuran arah kiblat, layanan zakat dan wakaf, bimbingan haji dan umrah, konsultasi, dan advokasi terkait persoalan keagamaan," terangnya.
"Semua layanan ini kita niatkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat," pungkas Iman mengakhiri perbincangan.
Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, KUA Ciawigebang juga memiliki sejumlah program unggulan, seperti Pusaka (Pusat Layanan Keluarga) Sakinah, Pepeling (Pengantin Peduli Lingkungan), Paduka (Pelayanan Administrasi Kependudukan Usai Pernikahan), Bimwin (Bimbingan Perkawinan), Percontohan Ekonomi Umat, UPZ KUA, dan Whatsapp Center.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



