Jakarta, Bimas Islam -- Bulan Zulhijah bukan hanya momen sakral umat Islam melaksanakan ibadah haji dan menyembelih hewan kurban, tetapi juga saat tepat untuk merefleksikan keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam kehidupan berkeluarga. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad, mengajak seluruh masyarakat meneladani nilai-nilai luhur yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dalam memperkuat ketahanan keluarga.
"Iduladha adalah momen untuk kembali menghidupkan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan yang dicontohkan Nabi Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Di sana ada pelajaran besar tentang perjuangan mempertahankan tauhid, sekaligus keteladanan dalam menjaga keutuhan keluarga," ujar Abu Rokhmad dalam acara Malam Takbir Nasional Iduladha 1446 H yang digelar di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (5/6/2025).
Menurutnya, perjalanan Nabi Ibrahim bersama Siti Hajar dan Ismail AS ketika hijrah ke Mekkah adalah gambaran nyata bahwa ujian dalam keluarga adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, dengan keteguhan iman dan ketaatan kepada Allah, setiap ujian bisa dihadapi dengan kekuatan hati dan solidaritas antaranggota keluarga.
"Peristiwa Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di lembah gersang adalah simbol perjuangan seorang ayah dan ibu menjaga nilai-nilai ketauhidan sekaligus menjaga keharmonisan keluarga. Bahkan ketika Ismail menangis kehausan, Hajar tetap berjuang, berlari antara Shafa dan Marwah, hingga akhirnya air Zamzam keluar sebagai berkah dari Allah," jelasnya.
Abu Rokhmad mengungkapkan pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi ketahanan bangsa. Ia mengungkapkan, meski angka pernikahan menurun, namun angka perceraian terus meningkat.
"Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Keluarga adalah pilar utama dalam membangun masyarakat yang kuat. Jika keluarga baik, masyarakat akan baik. Jika masyarakat baik, negara juga akan baik. Maka, ketahanan keluarga menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045," tegasnya.
Abu berharap, umat Islam dapat meneladani Nabi Ibrahim dalam menghadapi berbagai dinamika keluarga dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Keteladanan ini, menurutnya, tidak hanya penting dalam konteks spiritual, tetapi juga sosial dan kebangsaan.
"Mari kita teladani Nabi Ibrahim sekuat tenaga. Tidak hanya dalam hal kurban, tetapi juga dalam membina keluarga. Karena dari keluarga yang kuat dan harmonis, akan lahir generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Inilah fondasi menuju Indonesia yang berkemajuan," tutupnya.
Msk-Mr



