Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag, M. Fuad Nasar menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya ke Rahmatullah KH. Syuhada Bahri.
"Saya menyampaikan duka cita dan takziyah sedalam-dalamnya atas berpulangnya KH. Syuhada Bahri. Semoga Allah SWT mengampuni, merahmati arwahnya, dan menempatkannya kelak di surga Jannatun Naim. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan serta perlindungan-Nya,” kata Fuad saat dihubungi bimasislam, Jumat (18/02).
Fuad yang ikut menyalatkan jenazah almarhum di Masjid Al-Furqan DDII Pusat Jl.Kramat Raya 45 Jakarta mengatakan, meninggalnya KH. Syuhada Bahri membuat masyarakat Islam Indonesia kehilangan seorang mubalig dan pejuang dakwah yang ikhlas serta penuh dedikasi demi kepentingan agama dan kehidupan umat-bangsa yang lebih baik di bawah naungan rida Ilahi Rabbi.
Hadir menyalatkan jenazah dan memberi sambutan pelepasan jenazah di Masjid Al-Furqan usai shalat jumat, Wakil Ketua MPR-RI Zulkifli Hasan, Gubernur DKI Jakarta Anies R. Baswedan. Sambutan pimpinan DDII disampaikan oleh KH. Abdul Wahid Alwi. Hujan lebat sempat turun saat jenazah sudah di masjid dan hujan berhenti ketika jenazah mau diberangkatkan dari masjid.
"Allahu yarham KH Syuhada Bahri yang wafat dalam usia 68 tahun adalah seorang eksponen dakwah yang bersahaja, tidak silau dengan materi dan popularitas,” ujar Fuad Nasar.
Fuad mengatakan, KH. Syuhada Bahri seorang yang menjiwai tugas dakwah serta mengembangkan pendidikan kaderisasi dai, cendekia dan ulama melanjutkan khittah para pendahulunya. Lebih dari separuh usianya diabdikan di medan dakwah, artinya digunakan di tengah masyarakat, membina mental-spiritual, dan akhlak umat melalui pesan-pesan kebajikan dan bimbingan keagaman yang mencerahkan dan mendamaikan.
“Beliau sangat peduli dan kerap terjun langsung dalam kegiatan dakwah di pedalaman, daerah-daerah terpencil dengan segala kesulitan dan keterbatasan, dimana tidak semua dai sanggup melakukannya,” tuturnya.
Fuad mengutip kesaksian rekan almarhum bahwa beliau lebih memilih membatalkan menghadiri undangan ceramah di Jakarta daripada tidak memenuhi undangan ceramah di daerah terpencil di pedalaman.
“Medan dakwah yang pernah dikunjungi Syuhada Bahri mulai dari pedalaman daratan, pulau, dan naik kapal kecil menghadang ombak di lautan lepas dan menyeberang sungai. Wilayah Timor Timur dulu juga sering dikunjunginya mengajarkan Islam yang merupakan agama pembawa rahmat bagi alam sejagat. Semua itu ditempuhnya demi dakwah dan kecintaan pada umat Islam di berbagai pelosok NKRI,” ungkapnya.
KH Syuhada Bahri, menurut Fuad Nasar, adalah ustad dan dai yang komitmen keislamannya menyatu dengan komitmen kebangsaan dalam konteks NKRI. Motto yang didengungkannya di Dewan Dakwah ialah "Selamatkan Indonesia dengan Dakwah".
Umat Islam Indonesia, lanjut Fuad Nasar, semenjak puluhan tahun yang lampau memiliki beragam lembaga dakwah dan mengenal sosok tokoh-tokoh dakwah yang hebat di berbagai tempat, semua memberi andil dan berjasa dalam merawat kultur kebangsaan Indonesia yang relijius.
"Mari kita jaga persatuan, perkuat kerukunan internal sesama umat Islam maupun kerukunan antarumat beragama di republik ini," tutupnya.
(Tommy)
Keterangan foto: saat jenazah usai disalatkan di Masjid Al-Furqan, DDII, Jakpus.



