Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag, M. Fuad Nasar menyebut almarhum Prof. Dr. Yahya A. Muhaimin yang lahir 29 September 1943/17 Ramadhan 1362 H adalah seorang tokoh nasional di bidang pendidikan. Ia turut memajukan pendidikan di Tanah Air dan dikenang sebagai pribadi bersahaja, rendah hati, tenang, santun, menghargai orang lain dan seorang sosiawan.
“Indonesia telah kehilangan salah seorang intelektual teladan. Almarhum orang baik dan lurus. Wajahnya teduh dan damai. Insya allah husnul khatimah, semoga arwahnya memperoleh kedamaian di sisi Allah Swt dan amal jariyah beliau semasa hidupnya akan terus berkembang manfaatnya bagi generasi mendatang,” kata Fuad melalui keterangan tertulis yang diterima bimasislam, Rabu (09/02).
Sesditjen mengatakan, semasa hidupnya, mantan Mendiknas yang pernah menempuh pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1963 - 1967 dan Fisipol UGM itu berkarir sebagai akademisi di Fisipol UGM. Yahya dikenal sebagai intelektual Muslim yang tulus dan berintegritas. Pernah menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Washington DC Amerika Serikat. Ia aktif sebagai Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah 2000-2005, dan Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah 2005-2010. Juga pernah menjadi Dekan Fisipol Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) yang pertama.
Fuad juga mengatakan, almarhum mendirikan lembaga pendidikan sekolah dan perguruan tinggi di daerah kelahirannya, Bumiayu, Jawa Tengah. Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan Dekan Fisipol UGM, setiap pekan konon beliau masih meluangkan waktu untuk mengajar di sekolah.
“Almarhum walaupun memiliki gelar Doktor Ilmu Politik lulusan Amerika Serikat, tidak merasa rendah mengajar murid di sekolah menengah karena beliau seorang yang mengerti kemuliaan dan berkah ilmu,” kenangnya.
Selain itu, Fuad mengatakan, meski hanya menjabat Mendiknas tidak lama atau lebih kurang dua tahun dalam kabinet Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), jasa dan kontribusinya terhadap dunia pendidikan di Tanah Air sangat patut diapresiasi. Fuad Nasar mengutip testimoni Indra Djati Sidi, mantan Dirjen Diknas, bahwa salah satu legacy Yahya A. Muhaimin ialah dasar-dasar desentralisasi pendidikan diletakkan di masa almarhum menjadi Mendiknas. Yahya A. Muhaimin sangat concern dengan civic education dan sejarah.
Yahya A. Muhaimin salah seorang pewawancara Mohammad Natsir dalam rangka penulisan buku "Pesan Perjuangan Seorang Bapak - Percakapan Antar Generasi". Tim lainnya ialah Amien Rais, Kuntowijoyo, A. Watik Pratiknya dan Endang Saifuddin Anshari.
“Sesuai judul buku biografi jejak perjalanan almarhum yang ditulis Badruzzaman Busyairi dengan judul "Tiga Kota Satu Pengabdian" tergambar lengkap napas pengabdian almarhum Yahya A. Muhaimin di bidang pendidikan. Tiga Kota dimaksud adalah Bumiayu, Yogyakarta, dan Jakarta,” tutupnya.
(Tommy)



