Jakarta, Bimas Islam — Inovasi pengelolaan limbah mengubah Masjid Jami Al-Ilham, Dukuh Seti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi pusat pemberdayaan ekonomi hijau yang menggabungkan nilai ibadah dan kepedulian lingkungan. Terobosan ini dipaparkan oleh Kiai Umar Farouq dalam Webinar Nasional Masjid Ramah Lingkungan yang digelar Subdit Kemasjidan, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag), Rabu (13/8/2025).
Dalam paparannya, Kiai Umar mengisahkan bagaimana limbah kulit kerang yang selama ini hanya dibuang dan mencemari lingkungan pesisir, diolah menjadi kerajinan tangan bernilai jual. “Kami jadikan kulit kerang sebagai bahan utama pembuatan hiasan dan ornamen. Dari situ, ekonomi jamaah terangkat, lingkungan pun bersih,” ujarnya.
Program ini lahir dari keinginan jemaah untuk memakmurkan masjid sekaligus melestarikan alam. Masjid Jami Al-Ilham membentuk unit khusus yang mengelola pengumpulan limbah, proses produksi, hingga pemasaran hasil kerajinan. Keuntungan penjualan dialokasikan kembali untuk mendanai berbagai kegiatan sosial masjid.
Tidak hanya memanfaatkan limbah kulit kerang, masjid ini juga mengembangkan program daur ulang sampah plastik, pembuatan pupuk organik, dan pengelolaan bank sampah. “Kami punya GPS, Gerakan Pungut Sampah, yang menjadi pintu masuk membangun kesadaran jemaah untuk menjaga kebersihan,” tuturnya.
Pengelolaan lingkungan itu diperkuat dengan pendanaan internal melalui Jaringan Pengelola Zakat, Infaq, dan Sedekah (JPZIS) di masjid dan musala se-desa. Dengan model ini, pembiayaan program pemberdayaan tidak bergantung pada bantuan luar.
Saat pandemi Covid-19, masjid ini bahkan menjadi garda terdepan membantu warga yang menjalani isolasi mandiri. “Setiap pagi dan siang, kami kirimkan makanan untuk seluruh anggota keluarga yang terpapar, selama masa isolasi. Negara saja tidak melakukan itu, tapi masjid kami bisa,” ungkapnya penuh haru.
Masjid Al-Ilham juga memiliki unit GTM Info yang memberikan layanan kematian. Semua perlengkapan pemulasaraan jenazah disediakan masjid tanpa biaya. “Kalau ada warga meninggal, keluarga tidak perlu pusing. Semua sudah kami siapkan,” jelas Kiai Umar.
Menurutnya, model pemberdayaan ini tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Warga menjadi lebih peduli terhadap kebersihan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan.
Kiai Umar menegaskan, kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi jamaah, keberanian memulai, dan kemampuan memanfaatkan potensi lokal. “Kalau masjid mau bergerak, banyak hal yang bisa dilakukan, asal mau melibatkan masyarakat,” katanya.
Kepala Subdirektorat Kemasjidan, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Kemenag, Akmal Salim Ruhana mengapresiasi langkah Masjid Jami Al-Ilham sebagai teladan masjid ramah lingkungan di Indonesia. “Ini membuktikan masjid bisa menjadi pusat ekoteologi, menggabungkan ibadah dengan kepedulian lingkungan,” ujarnya.
Ia menilai, masjid yang aktif mengelola potensi lokal dapat menjadi lokomotif perubahan sosial. Unit usaha ramah lingkungan yang dikembangkan masjid akan memperkuat kemandirian ekonomi umat.
Kemenag, lanjutnya, terus mendorong lahirnya model serupa di berbagai daerah. Program pendampingan dan pelatihan pengurus masjid akan difokuskan pada inovasi pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan jamaah.
Menurutnya, masjid memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk peduli lingkungan. “Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat solusi sosial, ekonomi, dan lingkungan,” tegasnya.
Ia menambahkan, gerakan masjid ramah lingkungan sejalan dengan visi penguatan peran masjid sebagai pusat peradaban umat. “Kita ingin gerakan ini menjadi budaya baru di masyarakat,” imbuhnya.
Akmal menambahkan, kisah Masjid Jami Al-Ilham menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di lingkungan terdekat. Dari mengelola kulit kerang menjadi kerajinan hingga membantu warga di masa krisis, masjid membuktikan perannya sebagai pusat kebaikan yang berdampak luas.
Selain Inovasi Ekonomi Hijau, Masjid Jami’ Al-Ilham juga mencatat prestasi membanggakan di tingkat nasional. Kelompok remaja masjidnya, RAMAH (Remaja Masjid Al-Ilham), terpilih sebagai salah satu dari 16 grup yang tampil dalam "Apresiaksi" Remaja Masjid Indonesia (ARMI) 2024, ajang yang digelar oleh Ditjen Bimas Islam Kemenag pada 7-9 November 2024 di Jakarta.
“Kehadiran RAMAH mencerminkan keberhasilan program pengabdian dan kreatifitas sosial yang telah mereka jalankan di desa, memberi inspirasi bagi remaja masjid lainnya di seluruh Indonesia,” pungkasnya.
An/Mr



