Semarang, Bimas Islam --- Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Ditjen Bimas Islam Kemenag, Adib menegaskan, masjid bukanlah tempat berpolitik. Masjid, kata dia, merupakan pusat peradaban umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad Saw.
“Kita ingin mengembalikan peran dan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat Islam di mana ada aspek idarah (manajemen), imarah (memakmurkan), dan _riayah_ (pemeliharaan),” terang Adib saat membuka Bimtek Layanan Bidang Urais dan Binsyar Bagi Penghulu, Penyuluh se-Jawa Tengah di Hotel Novotel, Semarang, Kamis (16/6).
“Ketika menjelang Pilkada maupun Pilpres, tugas kita menjadi semakin krusial karena biasanya masjid menjadi tempat perebutan. Itu jangan sampai terjadi. Kita harus memberi pemahaman bahwa masjid bukanlah tempat untuk berpolitik, tetapi sebagai pusat peradaban umat Islam,” katanya.
Mantan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat ini menegaskan, masjid merupakan pusat dakwah umat Islam yang menyejukkan. Karenanya, kata dia, masjid harus tetap menjadi tempat yang ramah bagi semua golongan umat Islam.
“Kita harus tetap memastikan bahwa masjid menjadi payung bagi semua golongan umat Islam, menjadi pusat peradaban Islam yang memiliki peran dan fungsi di tengah masyarakat, khususnya terkait dengan pemberdayaan ekonomi umat,” katanya.
Terkait hal tersebut, Adib menjelaskan, Kemenag sudah memiliki peta jalan pengarusutamaan masjid yang nantinya bermuara sebagai sebuah pesantren besar bagi masyarakat. “Sudah semestinya masjid memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat di sekitarnya,” katanya.
(Rendi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



