Tarakan, Bimas Islam --- Tarakan merupakan sebuah pulau dan kota terbesar yang berada di Provinsi Kalimantan Utara, banyak yang lupa, atau mungkin tidak mengetahui, bahwa kota dengan luas 657,33 kilometer persegi ini, merupakan daerah pertama kali Jepang mendarat dan menjajah Indonesia.
Sebelum kedatangan Jepang di Tarakan sekitar tahun 1942, daerah yang dikenal kaya akan hasil minyak bumi ini telah terlebih dahulu dikuasai oleh Belanda sejak tahun 1800-an, namun, sumur minyak baru ditemukan pada tahun 1860 yang kemudian disedot oleh perusahaan Belanda bernama Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) untuk keperluan militer dan negaranya.
Tarakan dengan sumber minyak buminya, menjadi gerbang awal Jepang untuk menguasai wilayah Indonesia, perang sengit perebutan daerah terjadi, antara Jepang dan tentara sekutu.
Adu tembak terjadi di sejumlah wilayah di Tarakan, sekutu juga menjatuhkan banyak bom melalui udara, menghancurkan sumur, dan penampungan minyak buminya.
Kala peperangan terjadi, warga yang tinggal di Tarakan banyak yang berlindung di bunger kecil di halaman rumahnya. Sedikit berbeda, penduduk yang berada di wilayah Tarakan Tengah, mereka lebih memilih untuk berlindung dari peperangan di sebuah masjid yang kala itu masih berupa musala atau langgar.
Masjid tersebut bernama Nurul Islam, terletak di Jalan Imam Bonjol, Tarakan Tengah, Kalimantan Utara. Awal pembangunanya bermula di tahun 1904, seorang keturunan Tiongkok yang akan kembali ke negerinya kemudian memberikan sebidang tanah kepada penduduk sekitar.
Pengurus Masjid Nurul Islam, Muhammad Sani Hasyim (79 tahun) mengatakan, atas sepengetahuan penduduk keturunan Tiongkok itu juga, kemudian dibangun Musala dengan swadaya masyarakat di atas tanah seluas 20 x 20 meter, dan diberinama Nur Islam. Konstruksi musala itu sendiri terdiri dari lantai semen, dinding papan, dan atap sirap.
"Pertama kali masjid ini dibangun, diberinama Nur Islam. Ini masjid pertama dan tertua di Tarakan. Dulu, penduduk di sini kebingungan tak punya tempat ibadah untuk salat, setelah dapat tanah hibah dari warga keturunan Cina itu, terus dibangun lah masjid, itu atas swadaya masyarakat, dibangun bersama," katanya.
Ia mengatakan, bahwa memang benar, Masjid Nurul Islam kala peperangan sengit antar tentara sekutu dan Jepang terjadi di tahun 1942 , banyak penduduk sekitar yang berlindung di masjid, padahal di rumah-rumah mereka telah memiliki lubang perlindungan bawah tanah atau bungker.
Meski adu tembak terjadi, bom-bom dijatuhkan oleh angkatan udara sekutu, area masjid sama sekali tidak pernah kejatuhan bom ataupun terkena tembakan, sehingga waktu itu, masjid ini dikeramatkan oleh penduduk.
Kakek Sani menjadi pengurus masjid yang memegang kisah turun temurun tentang kejadian tersebut dari pengurus-pengurus sebelumnya. Sambil memperlihatkan kertas tua berwarna cokelat dengan tulisan mesin tik, berisikan sejarah singkat Masjid Nurul Islam, Kakek Sani bercerita, ketika remaja ia sering salat berjamaah di masjid yang kala itu masih sederhana, dan ia mengaku bangga, sebelum hari tuanya kini, ia telah menjadi pengurus masjid itu.
Sejak tahun 1906 hingga 2011 telah ada tujuh kali pergantian pengurus. Masjid Nurul Islam pertama kali direnovasi pada tahun 1963, dikerjakan oleh Pertamina, kala itu berstatus Perusahaan Negara (PN).
Jumlah jamaah semakin meningkat, kemudian dilakukan kembali renovasi kedua pada tahun 1975, dibangun dua lantai, pembangunanya dibantu pemerintah dan swadaya masyarakat. Kemudian, pada tahun 2004, didirikan menara setinggi 24 meter, di samping masjid.
Namun, sangat disayangkan, peninggalan asli dari bangunan masjid ini sudah tak nampak lagi, akibat renovasi yang telah dilakukan beberapa kali. Peninggalan terakhir yang tersisa adalah sebuah beduk dan mimbar dan itu pun sudah tak terlihat lagi.
Kasi Bimas Islam Kemenag Tarakan, H. Asmawan mengatakan, Masjid Nurul Islam memiliki nilai sejarah, saksi peperangan antar tentara sekutu dan Jepang, juga penduduk yang selamat saat berlindung dari serangan angkatan udara sekutu yang menghanguskan Tarakan kala itu.
Ia mengatakan, meski bangunan asli sudah tak nampak, ciri khas bangunan tersebut yakni pada bagian atap masih terlihat sama seperti bangunan di masa lalu, dan hal ini tidak membuat Masjid Nurul Islam sepi dari jamaah yang tidak hanya datang dari daerah Tarakan Tengah, tapi dari berbagai penjuru juga.
"Sampai sekarang, Masjid Nurul Islam tak pernah sepi, nilai sejarah menjadi daya tarik sendiri bagi jamaah untuk beribadah di masjid yang sekarang mampu menampung kurang lebih 700 jamaah. Banyak aktifitas ada di masjid ini, mulai dari tausiyah subuh, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), dan pengajian yang diadakan setiap tiga kali dalam sepekan," katanya.
Asmawan mengatakan, Masjid Nurul Islam memiliki nilai sejarah yang kuat, dalam konteks kekinian, perlu adanya pengelolaan manajemen yang dilakukan secara modern, namun tak merusak nilai sejarahnya.
Hal ini menurutnya, tentu mampu memakmurkan lebih jauh masjid kedepannya. Sebab, Masjid Nurul Islam sudah tentu bisa menjadi destinasi wajib, bagi pengunjung atau wisatawan dari luar daerah, yang tengah berlibur di Kota Tarakan.
Penulis: Royhanul Iman/Insan Khoirul Qolbi
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



