Jakarta, Bimas Islam-- Wakil Menteri Agama (Wamenag) Saiful Rahmat Dasuki mengajak masyarakat untuk menjadikan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi dalam memperkuat karakter bangsa yang harmonis di tengah keberagaman.
Hal itu disampaikannya saat mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2024 yang bertajuk “Pesan Damai Rasulullah, Menguatkan Karakter Nusantara Baru, Indonesia Maju”, di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (23/9/2024).
“Nabi Muhammad SAW diutus bukan sebagai pemberi laknat, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Melalui dakwah yang santun dan damai, beliau mengubah masyarakat jahiliyah yang keras menjadi masyarakat madani yang beradab. Karenanya, ini menjadi momentum bagi semua elemen masyarakat untuk memperkuat karakter bangsa,” ujar Wamenag.
Saiful menjelaskan, Rasulullah SAW membawa ajaran cinta kasih, kedamaian, dan persatuan, yang relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk. Menurutnya, prinsip-prinsip ukhuwah yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia), sangat penting untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.
“Mari kita tebarkan salam, berbagi dengan sesama, dan menjaga persatuan bangsa melalui toleransi, saling menghormati, dan saling memahami,” imbuhnya.
Wamenag juga mengingatkan agar masyarakat tetap waspada terhadap tantangan zaman, seperti polarisasi sosial dan maraknya penyebaran hoaks. Dikatakannya, pesan damai Rasulullah SAW relevan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut dengan menegakkan nilai-nilai kebenaran dan kebijaksanaan.
“Kehadiran Rasulullah SAW telah mengangkat manusia dari kebodohan menuju pengetahuan, dari kekerasan menuju kedamaian, dan dari kezaliman menuju keadilan. Nilai-nilai ini penting untuk kita pegang teguh dalam menghadapi kehidupan modern,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi menyebut, peringatan Maulid Nabi, seperti juga Isra Mikraj dan Idulfitri, bukan sekadar ritual keagamaan. Menurutnya, hari-hari besar Islam berfungsi sebagai penguat iman dan persaudaraan antarumat.
“Kita diingatkan untuk meresapi kembali ajaran Islam yang menjunjung perdamaian, persatuan, dan toleransi. Ini sesuai dengan karakter Indonesia yang beragam, di mana persatuan dan kesatuan adalah fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa,” ulasnya.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi, imbuh Zayadi, bakal digelar Gebyar Maulid di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, Jakarta Selatan pada 12-13 Oktober mendatang. Ia menjelaskan, acara tersebut merupakan kolaborasi antara Ditjen Bimas Islam Kemenag dengan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), didukung oleh BAZNAS DKI Jakarta dan sejumlah lembaga filantropi Islam.
“Gebyar Maulid ini diisi dengan berbagai kegiatan sosial-budaya yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat luas,” terangnya.
Dikatakan Zayadi, kegiatan yang direncanakan antara lain Khitanan Massal, Lomba Marawis se-Jakarta, pemberian penghargaan kepada marbot masjid dan guru-guru ngaji, serta pelayanan kesehatan gratis. Selain itu, akan digelar lomba video pendek dengan tema penanggulangan stunting, bahaya judi online, dan dampak pernikahan dini.
Turut hadir dalam acara, pejabat eselon I dan II Kemenag, Ketua PBNU Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi, yang juga menyampaikan hikmah Maulid. Selain itu, hadir Duta Besar (Dubes) negara sahabat, perwakilan kementerian/lembaga, serta tamu undangan lainnya.
Wcp/Mr



