Jakarta, Bimas Islam — Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. 1448 Hijriah menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menerjemahkannya dalam kehidupan nyata. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak masyarakat tidak hanya memperbanyak selawat, tetapi juga meneladani ajaran Rasulullah dalam menjaga hubungan dengan sesama dan alam.
Menag mengatakan, Rasulullah saw. mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan alam dan tidak melakukan kerusakan. Pesan tersebut, menurutnya, relevan dengan kondisi lingkungan saat ini, termasuk persoalan asap dan pembakaran hutan yang dapat berdampak luas bagi kehidupan.
“Rasulullah itu memiliki satu kemampuan yang tidak diterapkan oleh anak manusia. Nabi selalu mengingatkan kita agar bersahabat dengan alam, karena alam itu bagian dari kita. Jangan merusak alam,” ujar Menag dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Tingkat Nasional 1448 H di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menag juga mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid sebagai kekuatan moral untuk mencegah kerusakan lingkungan. Ia mengingatkan agar praktik membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar tidak menjadi kebiasaan karena dapat merusak oksigen, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menjelaskan, pesan keteladanan Rasulullah tersebut menjadi bagian dari semangat Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan. Gerakan yang diluncurkan dalam rangkaian Blissful Mawlid 1448 H ini diwujudkan melalui pembacaan dan khataman kitab Dalā’il al-Khayrāt karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli al-Hasani al-Maliki.
“Gema Selawat Kebangsaan menjadi momentum bersama untuk menghidupkan tradisi selawat, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw., serta mendorong kecintaan tersebut berbuah pada upaya mengenal, mengikuti, dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari,” kata Abu.
Abu mengatakan pembacaan Dalā’il al-Khayrāt akan berlangsung selama delapan hari, dimulai pada Senin siang atau sore, 31 Agustus 2026, dan diakhiri dengan khataman pada Senin pagi, 7 September 2026. Pembacaan dibagi menjadi delapan bagian, dengan waktu pelaksanaan bagian kedua hingga ketujuh yang dapat disesuaikan dengan kondisi peserta atau kelompok.
Gema Selawat Kebangsaan terbuka bagi ASN Kementerian Agama dan masyarakat umum, baik secara perseorangan maupun berjemaah, secara luring ataupun daring. Pembacaan dapat dilakukan di rumah, kantor, masjid atau musala, KUA, pesantren, kampus, majelis taklim, serta tempat lain yang memungkinkan.
Gerakan ini menargetkan 1.781.945 peserta secara nasional. Angka tersebut terinspirasi dari tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Peserta dapat mendaftar melalui kanal resmi Gema Selawat Kebangsaan, mengakses kitab Dalā’il al-Khayrāt dalam format digital atau menggunakan kitab cetak, mengikuti seluruh rangkaian sesuai kemampuan, dan melakukan konfirmasi khataman bagi yang menyelesaikan delapan bagian bacaan.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



