Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengungkapkan, empat pelajaran penting dari Tasawuf Falsafi dalam konteks kehidupan keagamaan dan kebangsaan. Hal itu diungkapkannya saat memberikan sambutan pada bedah buku Prof Dr KH Said Aqil Siroj yang berjudul "Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi" yang ditayangkan secara virtual, Senin (5/4).
“Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, di mana budaya dan gaya hidup masyarakat yang semakin hedonis dan materialistik, tasawuf tentu akan sangat relevan untuk diterapkan, sebab konsep dan jalan tasawuf mengajarkan kita tentang banyak hal, antara lain mengajarkan tentang pentingnya moderasi dan keseimbangan,” kata Menag.
Pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu menyebut, pelajaran penting yang pertama, menyeimbangkan antara kekuatan rasionalitas dan spiritualitas antara akal dan hati, antara lelaku amali dan tentu saja pada falsafi. Hal itu menurut Gus Yaqut dicontohkan oleh seorang sufi Nazhari.
“Yang kedua tasawuf falsafi ini mengajarkan tentang pentingnya memfanakan, menafikan dan meluluhlantahkan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri kita sebagai manusia seperti keserakahan, keangkuhan, kesombongan, keputusasaan, merasa paling benar dan sifat-sifat nafsiyah lainnya,” katanya.
Pelajaran penting yang ketiga, kata Gus Yaqut, tasawuf falsafi mengajarkan pentingnya menghadirkan visi dan misi ketuhanan dalam segenapa kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.
“Sifat-sifat Tuhan yang Agung sedapat mungkin ditransformasikan ke dalam diri manusia supaya ia mampu menjadi sosok yang sempurna dan paripurna. Sosok wakil Tuhan yang mampu menjalankan tugas memakmurkan semesta dengan sebaik-baiknya,” paparnya.
Yang keempat, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, menurut Gus Yaqut konsep Ibnu al-Arabi tentang wahdatul wujud atau ”manunggaling kawula gusti” yang dikenal itu mengajarkan tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, karena ajarannya memberikan konsepsi meskipun berbeda-beda tetapi hakikatnya berasal dari zat yang Maha Esa.
“Manusia diciptakan Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, eksistensi manusia adalah eksistensi semu yang dapat hilang dan sirna saat maut menjemput. Sehingga semangat menjaga persatuan dan kesatuan ini akan terwujud dengan mudah jika setiap individu menyadari tentang hakikat keberadaan mereka di alam semesta yang fana ini,” pungkasnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



