Jakarta, Bimas Islam – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan, Isra Mikraj merupakan perjalanan spiritual yang berada di luar jangkauan akal manusia. Hal ini disampaikannya dalam peringatan Isra Mikraj Tingkat Kenegaraan Tahun 1446 H/ 2025 M, di Auditorium H.M. Rasjidi Kemenag, Jakarta, Kamis (30/1/25).
Menag mengungkapkan, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa, hingga ke Sidratul Muntaha, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peristiwa transenden yang menunjukkan kebesaran Allah SWT.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menjelaskan, ayat-ayat yang diawali dengan Subhanallah dan Tabarakallah dalam Al-Qur’an merupakan isyarat bahwa peristiwa tersebut berada di luar batas pemahaman logika manusia.
“Ketika Allah memulai ayat dengan ‘Subhanallah’, itu menunjukkan sesuatu yang berada di luar jangkauan akal. Isra Mikraj adalah perjalanan yang tidak bisa dicapai dengan mekanisme biasa, tetapi merupakan kehendak dan undangan langsung dari Allah SWT,” jelasnya.
Menag juga menyoroti pentingnya memahami bahwa peristiwa ini tidak disebutkan sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW secara aktif (Subhanalladzi asra bi-abdihi), melainkan sebagai perjalanan yang dijalankan oleh Allah kepada hamba-Nya yang dekat dengan-Nya. Hal ini menurutnya, menunjukkan perjalanan spiritual menuju puncak kedekatan dengan Tuhan hanya dapat dicapai oleh mereka yang memiliki ikatan kuat dengan-Nya.
Selain itu, Menag membahas makna konotatif dari Lailan dalam ayat Isra Mikraj, yang tidak hanya berarti ‘malam’ secara harfiah, tetapi juga melambangkan ketenangan, kepasrahan, kesejukan, dan kesatuan.
“Malam adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena di saat itulah intensitas spiritual seseorang mencapai puncaknya,” tambahnya.
Pimpinan Pondok Pesantren As’adiyah itu juga menjelaskan, peringatan Isra Mikraj tingkat kenegaraan tahun ini tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual, tetapi juga pengingat bagi umat Islam untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan dengan Allah SWT.
“Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga simbol perjalanan spiritual yang bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Menag.
Acara ini dihadiri oleh penceramah Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Akbar Habibie, serta turut hadir Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, dan sejumlah Wakil Menteri Kabinet Merah Putih, Duta Besar negara-negara sahabat, Pejabat Eselon 1 dan 2 di Kementerian Agama, staf khusus dan tenaga ahli Menteri Agama, serta para ulama dan tokoh Ormas Islam.
An/Mr



