Jakarta, Bimas Islam – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak para penyuluh agama untuk mengembangkan pendekatan dakwah ekologis dan berorientasi pada pelestarian lingkungan. Menurutnya, dakwah masa kini harus menyentuh isu-isu kemanusiaan dan keberlanjutan, bukan hanya aspek-aspek ritual keagamaan.
Hal itu disampaikannya saat memberi arahan pada Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat Ikatan Pengurus Pusat Penyuluh Agama RI (Rakernas IPARI) di Jakarta, Senin (26/5/25) malam.
Ia menekankan pentingnya perspektif eco-theology dalam penyuluhan agama, yaitu cara pandang keagamaan yang berpihak pada kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. “Pohon, air, dan tanah itu bukan benda mati. Ia bagian dari kita. Dalam banyak ajaran agama, hubungan manusia dengan alam adalah hubungan spiritual, bukan sekadar fungsional,” ujar Menag.
Ia mencontohkan filosofi ajaran dalam beberapa agama besar, termasuk Islam, yang menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tugas kekhalifahan, menurutnya, bukan dominasi, melainkan tanggung jawab menjaga dan merawat bumi sebagai amanah Tuhan.
Lebih lanjut, Menag menjelaskan, semangat keberagamaan yang otentik mengajarkan kasih sayang terhadap semua makhluk. “Dalam Islam, nama Tuhan yang paling utama adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Akar katanya sama, dari kata rahmah. Itu artinya cinta dan kasih sayang. Maka, menyayangi alam adalah bentuk aktualisasi iman,” tegasnya.
Menag mengajak para penyuluh agama untuk tidak ragu menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang mengedepankan kesadaran ekologis. Penyuluh perlu membangun narasi dakwah yang menjadikan cinta terhadap lingkungan sebagai bagian dari keimanan.
Menag juga menyampaikan bahwa agama-agama dunia mengajarkan prinsip serupa, yaitu harmoni, keseimbangan, dan tanggung jawab kolektif terhadap bumi. Maka penyuluh agama memiliki posisi strategis sebagai jembatan nilai-nilai spiritual dan aksi nyata pelestarian lingkungan.
Rakernas ini menjadi momentum penting untuk merumuskan strategi dakwah berkelanjutan yang menjawab tantangan zaman. Menag berharap seluruh jajaran penyuluh agama mampu menjadi pelopor gerakan dakwah hijau di tengah masyarakat.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad mengatakan, Rakernas IPARI II tahun ini diikuti oleh 154 peserta dari unsur pengurus pusat, pengurus wilayah lintas agama, dari seluruh Indonesia. Salah satu sesi penting dalam kegiatan ini adalah seminar internasional bertema Zero Waste Lifestyle dan Ekoteologi yang digelar sehari sebelumnya. Dikatakannya, tema tersebut merupakan cermin dari semangat transformasi model penyuluhan yang sedang dibangun IPARI. Abu Rokhmad berharap, Rakernas yang diikuti 154 peserta dari unsur pengurus pusat dan wilayah lintas agama dari seluruh Indonesia itu menghasilkan program kerja yang konkret dan berkelanjutan, tidak berhenti pada seminar atau diskusi.
“Kami dorong IPARI tidak sekadar menjadi forum, tetapi menjadi mesin penggerak penyuluhan yang berdampak dan terukur. Program harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Abu.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan agama dalam pelaksanaan penyuluhan yang menyentuh persoalan kehidupan sehari-hari. Zero Waste, menurutnya, adalah pintu masuk strategis untuk mengembangkan model penyuluhan yang inklusif dan berorientasi pada perubahan perilaku.
“Kita perlu desain penyuluhan yang tidak elitis. Justru mulai dari hal-hal yang paling dekat, seperti mengelola sampah, mengurangi limbah rumah tangga, hingga membentuk kesadaran kolektif tentang tanggung jawab terhadap lingkungan,” jelasnya.
Abu menambahkan, penyuluh agama perlu didukung dengan materi, pelatihan, dan kerangka kerja yang responsif terhadap dinamika masyarakat. “IPARI harus ambil peran dalam menyiapkan modul, melatih penyuluh, dan menyusun indikator capaian dakwah tematik. Termasuk untuk isu lingkungan dan ketahanan sosial berbasis nilai agama,” ujarnya.
Kemenag berkomitmen memperkuat ekosistem penyuluhan berbasis isu, baik melalui dukungan regulasi maupun fasilitasi program. Abu mengatakan, penyuluh agama bukan hanya penyampai pesan, melainkan bagian dari solusi atas berbagai persoalan umat.
“Jika kita ingin penyuluhan agama punya dampak nyata, maka IPARI harus jadi penghubung antara nilai agama dengan kebutuhan riil masyarakat. Dan, gerakan Zero Waste adalah contoh yang patut diperluas dan diperkuat,” tutupnya.
Rakernas IPARI itu dihadiri turut dihadiri Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Supriyadi, Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu I Nengah Duija, Dirjen Bimbingan Masyarakat Katolik Suparman, Bimbingan dan Pendidikan Konghucu Susari, Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Agama Khairunnas, dan sejumlah pejabat Kemenag.
An/Mr



