Banyuwangi, bimasislam --- Kabupaten Banyuwangi adalah sebuah daerah di timur pulau jawa Indonesia yang dalam tata kelola pemerintahannya telah menjalankan konsep smart city. Tak kurang dari dua tahun berjalan, gayung pun bersambut, yaitu melalui Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN pada tahun 2018 lalu, Kabupaten Banyuwangi berhasil terpilih sebagai Smart Cities ASEAN. Sebagai daerah dengan luas geografis terluas di Jawa Timur, Banyuwangi berhasil membuktikan penerapan konsep tersebut, diantaranya dapat ditelusuri dari tiga sampel yang ada, yaitu seperti gebyar festival seni kebudayaan yang diangkat dari kearifan lokal dan peran kreatif masyarakat selama 12 bulan penuh, penataan infrastruktur layanan masyarakat yang bersumber dari data digital dimulai dari tingkat desa, hingga sistem integrasi 119 pelayanan publik yang dipusatkan dan bertempat di salah satu Mall Kota Banyuwangi.
Tim majalah bimasislam dalam reportasenya (Kamis, 28/6) mencoba "menguji" pengaruh penerapan konsep tersebut pada ranah layanan lainnya seperti di bidang keagamaan, khususnya yang terkait dengan tradisi literasi di ranah peribadatan.
Literasi Islam di Masjid Baiturrahman
Adalah Masjid Agung Baiturrahman yang terletak di seberang Taman Sri Tanjung di pusat Kota Banyuwangi, turut andil menunjukkan bagaimana layanan keagamaan dengan konsep "smart" pun dapat diterapkan.
Memasuki area Masjid yang luas tanahnya mencapai +5.245 m2 dan luas bangunan sekitar +7.245 m2 ini, suguhan pertama adalah pemandangan 11 kubah berwarna hijau, dengan satu kubah utama yang dapat berputar dan berada tepat di bagian tengah atas masjid.
Dengan dipandu oleh sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baiturrahman Iwan Aziz, bimasislam memasuki satu persatu ruangan aktifitas para pengurus yang berada di gedung sekretariat, mulai dari ruang pimpinan, ruang takmir anggota, ruang rapat kerja DKM hingga ruang studio tempat berselancarnya radio komunitas 107,7 FM dan Baiturrahman TV. Sesaat setelah memasuki ruang terakhir tersebut, Iwan dengan bangga menjelaskan lebih detail terkait pengembangan dakwah keagamaan melalui media digital sebagai sarana yang terhindarkan di era kemajuan industri informasi saat ini. Iwan dengan lincahnya menunjukkan tata cara penggunaan video shooting yang berposisi sejajar dengan mimbar khatib, dan penampakan hasil tembakan kamera yang tersaji pada empat layar televisi besar di masing-masing tembok bagian depan di dalam masjid.
“Dapat dilihat, dengan didukung dua perangkat teknologi berupa siaran radio dan baiturrahman TV yang saat ini kita miliki, maka persaingan dakwah di era kemajuan perangkat digital tak dapat lagi dihindari,” ungkapnya. Melalui pemanfaatan perangkat tersebut Iwan meyakini, nyaman dan mudahnya para jamaah Masjid Baiturrahman selama mengikuti perjalanan dakwah maupun peribadatan akan dapat dinikmati dan disyukuri.
Masjid Agung dengan kapasitas 5.000 jamaah ini, belakangan memang dikenal oleh publik melalui koleksi Alquran raksasa berukuran 2 x 1,5 meter, buah karya Abdul Karim warga Kecamatan Genteng Banyuwangi yang disumbangkan sejak tahun 2011 lalu. Wal hasil, seiring dengan hadirnya maha karya itu menobatkan masjid ini sebagai simbol rumah ibadah yang memiliki tradisi literasi yang tinggi.
Menjelaskan babak sejarah yang mengitari kehadiran Alquran babon itu, sosok laki-laki bertubuh subur yang telah menghasilkan banyak karya sastra bernuansa tasawuf ini pun mengantarkan bimasislam menuju ruang khusus lainnya yaitu tempat disimpannya ratusan hingga ribuan koleksi pustaka Islam yang berada di pojok kanan dari bagian depan masjid.
“Para jamaah di rumah Allah ini seakan benar-benar dimanjakan oleh beragam koleksi kepustakaan Islam yang kami miliki”, jelas Iwan. Diantara koleksi pustaka Islam yang Iwan maksudkan, antara lain Kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i, Kitab Jami’ul Bayan karya At-Thabari, Kitab Mafatihul Ghaib karya Fakhrudin Arrazi, Kitab Tafsir Ibn Abbas, Kitab Muqadimah karya Ibn Khaldun, Kitab Bidayatul Mujtahid larya Ibn Rusyd hingga beberapa kitab lainnya yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia seperti Membumikan Syariah karya Mohammad Hashim Kamali dan Menyingkap diri Manusia karya Alamah Sayyid Abdullah bin Husain bin Thahir.
Selain menyediakan beragam produk pustaka keislaman yang menjadi koleksi utamanya, Masjid Agung yang saat ini diketuai oleh KH. Habib M Mahdi Hasan ini juga mengabadikan ragam kegiatan pengajian rutinnya dalam ratusan CD/DVD, dengan takhasus tema seperti Pengajian Tasbih, Pengajian Ad-Dhuha, Pengajian Hajat, Pengajian Ahad dan Pengajian Bulan Purnama.
Wal hasil, seiring dengan kekayaan dapur literasi yang dimiliki, serta dorongan partisipasi ribuan jamaah “smart city” dalam memakmurkan masjid ini maka pada tahun 2015 lalu, Penerimaan Penghargaan dari Menteri Agama dengan kategori Masjid Percontohan Paripurna Terbaik II Tingkat Nasional menjadi salah satu berkah yang tak dapat dihindarkan.
Sungguh, betapa berharganya kolaborasi konsep smart city pada sebuah kota besar, ketika mendapat dukungan dari rumah ibadah yang memberikan jejak literasi keislaman yang kuat dan mencerahkan. Semoga dapat menjadi virus hikmah, yang terus mewariskan kebaikan dan pencerahan.
Penulis: Syafaat
Editor: Syafaat
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



