Lamongan, Bimas Islam -- Di tengah kesibukan kendaraan yang keluar masuk pelabuhan dan terminal Paciran, sebuah masjid kecil berdiri tenang di Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Masjid At-Taqwa Tunggul, meski berukuran sederhana, memainkan peran penting sebagai tempat istirahat bagi para pemudik, terutama yang menggunakan transportasi umum seperti kapal laut, bus, atau travel.
Ketua DKM Masjid At-Taqwa Tunggul, Ustaz Ali Zuniman, menuturkan bahwa masjid ini telah lama menjadi tempat persinggahan favorit. “Masjid ini memang dibuka 24 jam. Kami ingin siapa pun yang datang, baik untuk ibadah maupun beristirahat, bisa merasa nyaman,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (1/4/2025).
Letak masjid yang sangat dekat dengan pelabuhan dan terminal menjadikannya lokasi strategis bagi para pemudik untuk transit. Rata-rata, sekitar 100 orang mengunjungi masjid ini setiap hari. Jumlah tersebut meningkat signifikan saat arus mudik dan balik Lebaran.
Meski tergolong kecil, fasilitas masjid ini cukup memadai. Toilet dan tempat wudu bersih dan terawat. Selama bulan Ramadan, takjil serta makanan dan minuman disediakan. Di luar bulan puasa pun, jemaah dan musafir tetap dapat menikmati minuman dingin yang tersedia di masjid.
“Kami ingin menjaga spirit pelayanan kepada tamu Allah. Siapa pun yang datang ke masjid, apalagi sedang dalam perjalanan jauh, berhak mendapatkan kenyamanan,” tambah Ustaz Ali.
Lahan parkir untuk mobil memang terbatas, hanya cukup untuk 2 hingga 5 kendaraan. Namun, area parkir motor cukup luas dan sering dimanfaatkan oleh mereka yang hendak menyeberang ke Pulau Bawean atau melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum lainnya.
Masjid ini juga menjadi tempat transit sementara sambil menunggu jadwal keberangkatan. “Banyak yang datang hanya untuk rebahan sebentar, minum air, salat, lalu melanjutkan perjalanan,” jelas Ustaz Ali.
Masjid At-Taqwa Tunggul termasuk dalam program Masjid Ramah Pemudik tahun 2025 yang diinisiasi oleh Kementerian Agama melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2025 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Dalam edaran tersebut, masjid-masjid di jalur mudik diimbau untuk membuka layanan 24 jam guna mendukung kenyamanan dan keselamatan pemudik.
Salah seorang pemudik asal Gresik, Atikah (32), mengaku sangat terbantu dengan keberadaan masjid ini. Ia singgah bersama suami dan dua anaknya sebelum menyeberang ke Pulau Bawean. “Kami bersyukur banget ada tempat seperti ini. Tempatnya bersih, tenang, dan dekat banget dari pelabuhan. Anak-anak juga bisa beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi tersedianya fasilitas dasar seperti toilet, air minum, dan ruang duduk. “Rasanya seperti disambut dengan tangan terbuka. Masjid ini kecil, tapi sangat ramah,” tambahnya.
Menurut Atikah, Masjid At-Taqwa Tunggul membuktikan bahwa ukuran bukan penentu utama kenyamanan. Dengan pelayanan yang tulus dan fasilitas yang layak, masjid ini menjadi oase penting bagi para musafir di tengah padatnya arus mudik dan balik Lebaran.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat mengapresiasi keterlibatan aktif para pengurus masjid dalam mendukung layanan bagi pemudik Lebaran 2025. Ia menilai, langkah ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya menjalankan fungsi spiritual, tetapi juga sosial dan kemanusiaan.
“Masjid-masjid seperti At-Taqwa di Tunggul adalah contoh konkret bagaimana tempat ibadah bisa menjadi ruang publik yang inklusif. Kehadirannya memberi dampak nyata bagi para pemudik, terutama mereka yang menggunakan transportasi umum dan membutuhkan tempat istirahat yang layak,” ujarnya.
Menurut Arsad, keterlibatan takmir dalam menyediakan fasilitas dasar seperti toilet, air minum, dan ruang istirahat merupakan bentuk pelayanan yang sederhana, tetapi sangat berarti. Hal ini sejalan dengan semangat Surat Edaran Menteri Agama yang mendorong pengelolaan masjid lebih terbuka dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ia berharap inisiatif ini tidak berhenti pada momentum Lebaran saja, melainkan bisa menjadi model layanan masjid sepanjang tahun. “Perlu ada kesinambungan dan penguatan, agar masjid betul-betul menjadi garda depan dalam membangun peradaban yang melayani,” tutupnya.
An/Mr



