Jakarta, Bimas Islam --- Prof. Dr. H. Anton Timur Djaelani, MA (1922 - 2009) merupakan tokoh Islam dan tokoh pejuang Kementerian Agama RI yang punya reputasi besar semasa hidupnya. Beliau adalah pejabat karir hingga diangkat sebagai Inspektur Jenderal Kemenag pertama tahun 1972-1978, lalu menjabat Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam yang pertama pula (kini Direktorat Jenderal Pendidikan Islam) pada 1978-1983.
Dalam webinar Kapita Selekta Dakwah mengangkat tema Perjuangan Dakwah Prof. Dr. H. Anton Timur Djaelani, MA yang diselenggarakan oleh Pesantren Mahasiswa Budi Mulia Yayasan Shalahudin Yogyakarta secara virtual Senin 28 Juni 2021, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar yang hadir menjadi pembicara mengemukakan, sosok Anton Timur berjasa dalam mengangkat marwah pendidikan Islam di Indonesia dan membangun institusi pendidikan Islam yang tangguh dan berkualitas.
"Salah satu kebijakan yang lahir ketika Pak Anton Timur menjadi Dirjen Binbaga Islam, yakni berdirinya Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1982, yang kini menjadi Sekolah Pascasarjana UIN. Pak Timur sebagai birokrat pemikir menyadari pentingnya pengembangan perguruan tinggi agama Islam sebagai lembaga ilmiah yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa serta mencetak kaum intelektual," terang Fuad di Jakarta, Senin (28/6).
Lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tahun 1975 yang isinya menetapkan kesamaan derajat sekolah agama yakni Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah atau MIN, MTsN, MAN setara dengan SD, SMP dan SMA, di masa Menteri Agama Prof. H.A. Mukti Ali, tidak lepas dari upaya dan perjuangan bersama para tokoh Depag seperti Prof. Anton Timur Djaelani, Prof. Zakiah Daradjat, dan para senior di zaman itu.
Selain itu, lanjut Fuad, Pak Anton Timur juga membentuk kelompok studi Islam untuk berbagai disiplin ilmu, yang anggotanya terdiri dari dosen-dosen Perguruan Tinggi Agama Islam. Kelompok studi inilah yang telah melahirkan buku rujukan Islam untuk Disiplin Ilmu (IDI).
"Pak Anton Timur termasuk salah seorang yang gigih mempertahankan pendidikan agama tetap di bawah Departemen Agama. Karena menurutnya, pendidikan agama itu adalah aset umat Islam yang mempunyai ciri kekhususan. Jika akan disempurnakan, kurikulumlah yang perlu diperbaiki, sedangkan pengelolaannya tetap di bawah Departemen Agama," ungkap Fuad.
Fuad turut mengutip pernyataan dari Pak Anton Timur Djaelani, inti dari filsafat Islam adalah siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhan Sang Pencipta. Kebenaran Allah itu mutlak, namun kebenaran manusia relatif karena ada nilai pembandingnya dari sudut pandang yang lain.
"Saya kira tepat sekali jika generasi sekarang mempelajari pemikiran dan jejak perjuangan Pak Anton Timur yang masih relevan sampai kini, seperti pemikirannya tentang kebudayaan, sumbangsih Islam terhadap sosiologi di Indonesia, negara Pancasila bukan negara Sekuler, Islam dan Kebangsaan, aspek politik hukum di Indonesia dan lain-lain. Tesis beliau di McGill Montreal Canada tentang gerakan Sarekat Islam dan nasionalisme Indonesia telah diterbitkan versi bahasa Indonesia. Ini warisan literasi sejarah sangat berharga," ungkapnya.
Semasa revolusi fisik tahun 1949 ia bergabung dengan Brigade Tentara Pelajar karena panggilan perjuangan untuk membela kehormatan agama dan tanah air.
"Pak Anton Timur itu aktivis sejak muda, salah satu tokoh pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII) tahun 1947 dan pejuang umat di jalur birokrasi. Beliau mewarnai birokrasi Kementerian dengan ide, gagasan, kebijakan dan keteladanan pribadinya. Pak Anton Timur yang wafat 7 Februari 2009 pada usia 86 tahun, hidup dalam kehormatan, tidak mencari penghormatan. Saya pernah bertemu beliau di rumahnya. Sosok beliau tenang, bersahaja, wajahnya teduh dan berwibawa. Untuk saat ini, negara selayaknya menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera kepada almarhum Pak Anton Timur Djaelani atas jasa-jasanya terhadap bangsa, negara, dan agama yang menjadi teladan dan inspirasi bagi generasi penerus," tutup Fuad Nasar yang juga pemerhati sejarah.
Selain Fuad Nasar, turut berbicara sejarawan Lukman Hakiem dan Masyhuri A.M yang juga mantan Kepala Pusat Informasi dan Humas Depag RI. Masyhuri mengulas peran dan kiprah Pak Anton Timur sebagai ilmuwan, aktivis dan birokrat.
(Boy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



