Fuad mengungkapkan kesan dirinya saat bertemu langsung dengan Jenderal Nasution yang akrab disapa Pak Nas sebagai seorang tokoh negarawan dan prajurit tentara yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral.
"Beliau itu seorang tokoh yang memberikan teladan bagaimana menjunjung akhlak dan moral dalam berbeda pendapat. Beliau itu mengkritik secara intelektual tanpa menyerang pribadi orang. Pak Nas itu pejuang yang tulus ikhlas dan tanpa pamrih memberikan yang terbaik untuk negara. Beliau tokoh besar yang sederhana, jujur dan dekat dengan generasi muda dalam rangka mewariskan apa yang disebutnya jiwa dan semangat '45," ungkap Fuad di Jakarta, Kamis (20/5).
Meskipun berseberangan secara politik dan mengkritik pemerintahan Orde Baru yang dinilai menyimpang dari asas demokrasi dan kedaulatan rakyat dimana Pak Nas ikut menggariskan tekad dan dasar-dasar perjuangan Orde Baru di awalnya Fuad mengatakan Pak Nas sama sekali tidak mempunyai dendam pribadi kepada Pak Harto (Presiden Soeharto). Bahkan menurutnya, Pak Nas selalu mengirimkan kartu selamat Idul Fitri kepada penguasa Orde Baru tersebut. Ada yang dibalas oleh Pak Harto, ada yang tidak dibalas. Pada waktu Ibu Tien Soeharto wafat, Pak Nas datang takziyah ke Jl. Cendana.
"Beliau mengkritik secara intelek dan bermartabat, bagaimana banyak penyimpangan di masa Orde Baru. Namun yang ia kritisi adalah kebijakannya, bukan secara personal. Itu adalah salah satu contoh yang sudah langka pada saat ini," imbuhnya.
Sebagai seorang yang taat beragama, lanjut Fuad, Pak Nas banyak berbuat untuk kepentingan umat Islam. Dalam situasi negara tidak kondusif antara tahun 1963-1965, sebagai tokoh pimpinan di tubuh militer beliau menjalin komunikasi yang baik dengan para pemimpin dan tokoh Islam. Pak Nas sering diundang berkhutbah dan memberi ceramah dalam hari-hari besar Islam.
"Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam sangat dekat, bahkan Masjid Cut Meutia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat merupakan salah satu sumbangsih Pak Nas kepada umat Islam yang akan tetap dikenang sepanjang masa," ujarnya.
Kesederhanaan dan kejujuran Pak Nas serta ketaatannya beragama sebagai muslim membentuk jiwa dan hatinya bersih tanpa dendam kepada siapa pun. Itulah antara lain teladan yang patut dicontoh dari sosok Pak Nas. Ketika memegang jabatan pimpinan tertinggi di Angkatan Bersenjata dan memimpin lembaga tertinggi negara, beliau selalu memisahkan antara urusan kedinasan dan urusan pribadi/keluarga, sehingga terjauh dari perbuatan korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Pak Nas mengatakan, pembangunan manusia, pembangunan moral, adalah titik sentral dan inti pembangunan nasional. Dalam beberapa bukunya Pak Nas menulis, "Perjuangan Generasi '45 baru dapat menyelesaikan tiga kata dari tujuan kemerdekaan menurut UUD, yakni mengantarkan rakyat kepada Indonesia yang merdeka, bersatu dan berdaulat, dan generasi baru masih harus mengantarkan rakyat kepada Indonesia yang adil dan makmur."
"Pak Nas itu prajurit, pejuang, pemikir dan negarawan," tutupnya.
(Boy)



