Denpasar, bimasislam --- Sejak dulu, Pulau Bali dikenal sebagai surga wisata kelas dunia. Meski berada di tengah-tengah Indonesia yang notabene merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim, ciri khas dari provinsi berjuluk Pulau Dewata itu adalah kekayaan seni dan budaya, terutama yang bernafaskan Hindu. Lalu bagaimana perkembangan seni dan budaya Islam di Pulau yang bertentangga dengan Lombok itu?
Kepala Kementerian Agama Provinsi Bali, I Nyoman Lastra menyebut bahwa meski minoritas secara jumlah, warga Muslim di Provinsi Bali ibarat “Cabai Rawit”. Hal tersebut dikatakannya saat menyampaikan ucapan selamat datang pada Festival Seni Budaya Islam Tingkat Provinsi Bali Tahun 2019, Sabtu (22/6) lalu. Dijelaskan Nyoman, cabai rawit artinya kecil tetapi pedas. Sangat terasa keberadaannya. Hal itu dibuktikan dengan disabetnya sejumlah gelar juara oleh Provinsi Bali pada event “bernuansa Islam” di tingkat nasional, di antaranya adalah Festival Rebana, Qasidah, Festival Bintang Vokalis, hingga Anugerah KUA Teladan Nasional.
Sabtu hingga Ahad lalu (22-23 Juni 2019), atas kolaborasi apik Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dengan Kanwil Kemenag Provinsi Bali, digelar Festival Seni Budaya Islam yang diikuti grup Hadrah Kontemporer dan Qasidah Kolaborasi dari seluruh Kabupaten/Kota se-Pulau Dewata.
Kontestasi yang menghadirkan dewan juri antara lain Agus Idwar Jumhadi (pakar Musik Islam), Sri M.Dwi Astuti (Pelatih Vokal), Elistiani Diah Lukitasari (Model sekaligus pakar perform on stage), dan sejumlah pakar musik Islami itu berlangsung meriah. Yang menarik, sejumlah peserta menampilkan musik Islami dengan sentuhan khas bernuansa kearifal lokal Bali. “Menarik sekaligus unik dimana kita bisa melihat alunan qasidah atau hadrah namun dengan kemasan kearifal lokal khas Bali,” ujar salah seorang pengunjung. Penampilan peserta pada kontes tersebut juga cukup memukau dan mengagumkan.
Direktur Penerangan Agama Islam, Juraidi, bukan tanpa sebab menggelar Festival Seni Budaya Islam di Pulau Dewata. Ia ingin, festival ini dapat menjadi ajang untuk identifikasi, revitalisasi, inovasi, sekaligus sarana sosialisasi seni budaya Islam di Pulau Bali. Sementara itu Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin, juga terkesan dengan antusiasme masyarakat Bali yang menyaksikan event tersebut. Bahkan, melihat antusiasime dan keramaian acara, Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu mengatakan tak menutup kemungkinan pada tahun-tahun mendatang juga akan digelar acara serupa di provinsi yang kini dipimpin oleh I Wayan Koster itu.
Secara terpisah, Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Ditjen Bimas Islam, Jalal Suyuti juga mengaku bangga hati setelah sukses menggelar Festival Seni Budaya Islam di Pulau Dewata itu. “Bukan hal yang mudah, tetapi berkat keyakinan dan kerja keras seluruh panitia, baik pusat maupun daerah, acara ini berhasil digelar dengan lancar dan sukses,” katanya kepada bimasislslam.
Dalam kontestasi yang juga dihibur oleh Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Tarmizi Tohor –yang turut unjuk kebolehan membawakan sejumlah lagu--itu, tiga grup hadrah dan tiga grup qasidah berhasil menyabet gelar juara. Untuk Kategori Hadrah Kontemporer, tiga terbaik adalah Grup Hadrah An-Nasyir dari Kabupaten Karangasem yang membawa pulang gelar Juara I, lalu diikuti oleh Grup Fosda Ahlal Madinah (Kota Denpasar) di posisi dua, dan Grup Hadrah As-Siddiqi dari Jembrana di posisi tiga.
Sementara untuk kategori Qasidah Kolaborasi, Juara Satu diraih Grup Gema Rebana Al-Hasanah dari Kabupaten Badung, disusul Grup Qasidah Khairunnisa Denpasar di Posisi Dua, dan Al-Huda dari Tabanan sebagai Juara Tiga. I Nyoman Lastra selaku Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali menyerahkan langsung hadiah uang pembinaan kepada para juara. Selamat!
Penulis: sigit
Editor: sigit
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



